SANG SABDA YANG PENUH KUASA
25 September 2018
Selasa, 25 September 2018
Ams 21:1-6, 10-13
Mzm 119:1, 27,30, 34-35, 44
Lukas 8:19-21
“Ibu-Ku dan saudara-saudari-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” --- Lukas 8:21
INJIL LUKAS Bab 8, sudah mulai kita baca hari Sabtu , minggu lalu. Dan sekarang bacaan kelanjutannya. Lukas di situ menegaskan adanya “kuasa” dalam Diri Yesus, segala kuasa atas surga dan bumi yang diberikan Bapa (Mat 28:18) , kuasa di dalam Sabda-Nya. Perumpamaan tentang ‘tanah yang subur’ (Luk 8:4-15) mengajarkan bahwa Sabda Allah itu akan berbuah berlimpah di dalam hati orang yang terbuka. Mereka ini tunduk patuh pada wibawa dan wewenang Sang Sabda itu dan menerima kuasanya. Bagi umat yang menekuni belajar Kitab Suci menerima kuasa dari Sabda Allah itu, kuasa untuk merubah hidup mereka. Dan umat yang tunduk patuh pada Sabda akan menerima kuasa lebih lagi (Luk 8:18). Dan mereka juga menerima keangotaan menjadi warga keluarga Allah (Luk 18:21). Sabda Allah itu mempunyai kuasa penuh atas hukum dan kekuatan alam (Luk 8L 24-25), atas roh jahat (Luk 8: 32 dst), atas sakit penyakit (Luk 8:43-48) dan juga mencakup atas maut (Luk 8: 54-55).
Karena Sabda Allah memiliki wewenang sedemikian dan kuasa yang mengagumkan, maka tepatlah kalau kita diminta “mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya” (Luk 8:21). Kita hendaknya berjalan di jalan hukum Tuhan (Mzm 119:1), melekat erat pada Sabda-Nya dan membuatnya Sabda itu menjadi kesukaan dan kebahagiaan kita (Yer 15:16).
Allah Bapa memberi kepada Yesus, sang Sabda yang Hidup (Ibr 4:12), “segala kuasa di sorga dan di bumi” (Mat 28:18).
Mari kita setiap hari semakin akrab dengan Sabda Allah (Yoh 8:31). Mari kita meniti hidup ini di bawah kuasa kuasa dan wibawa-Nya.
Doa: Bapa, terjadilah padaku menurut Sabda-Mu.
Janji: “Berbahagialah orang-orang yang hkidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat (sabda) Tuhan” --- Mazmur 119:1
Pujian: Sepuluh tahun Jenni sudah menikah, tetapi belum dianugerahi anak. Para dokter ahli kandungapun memerika dan mengatakan bahwa ia tak akan dapat hamil. Tetapi Yenni pasrah dan percaya penuh kepada Allah. Akhirnya doanya didengarkan dan dikabulkan. Ia mengadung seorang bayi. Itu ia anggap sebagai suatu mukjizat.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ