SANGGUP MEMIKUL SALIB YESUS
07 November 2018
Rabu, 7 November 2018
Filipi 2:12-18
Mazmur 27:1,4,13-14
Lukas 14:25-33
“Barang siapa tidak memanggul salib-Nya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” --- Lukas 14:27
SALIB. MEMILIKI macam-macam makna. Mulai dari Tanda ritual sampai dengan Tanda derita dan kematian serta kebangkitan Yesus. Salib juga Tanda bagi kita dalam mengikuti jejak-Nya.
- Beberapa kali dalam sehari kita membuat tanda salib secara ritual, memulai dan mengakhiri doa-doa kita
- Sebagai simbol iman kekristenan kita. Kita pasang Salib di rumah, kita nyatakan diri kami atau keluarga kami adalah katolik. Salib kita pasang di kamar tidur dan di tempat-tempat kita, meski sering hanya sebagai hisan belaka
- Selain itu, salib bagi kita juga sebagai sumber inspirasi kita dalam mengikuti -jejak-Nya dan meneladan-Nya.
- Salib lebih-lebih merupakan ungkapan iman kita, bahwa Yesus telah sengsara, wafat dan kemudian bangkit dari mati, serta menang atas maut dan dosa, dan yang menjadikan anak-anak Allah.
Dalam bacaan Injil Lukas hari ini, dikisahkan bagaimana Yesus memberikan perintah kepada orang-orang yang mengikuti pengajaran-Nya untuk menjadi murid-Nya, yakni dengan “memanggul salibnya dan mengikuti Aku, otau tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:27). Untuk menjadi murid-Nya kita diminta melepaskan keterikatan kita akan keluarga, yakni ayah, ibu, istri, anak-anak, saudara-saudaranya, bahkan nyawa kita sendiri supaya dapat menjalin hubungan yang intim kita dengan Allah. (Lukas 14:26). Kita harus total menyediakan dan menyerahkan hidup kita bagi Tuhan. Kita harus siap dibimbing-Nya, siap menerima segala resiko yang harus kita hadapi, seperti penolakan dari orang lain, direndahkan, ataupun bahkan diremehkan, dan dianggap kafir.
Namun kita harus selalu berusaha untuk mengerti dan memahami ajaran-Nya, yang bisa menjadi pijakan untuk mampu melepaskan keterikatan hal-hal duniawi yang mungkin masih membelenggu kita selama ini. Kalau ada kata: “Membenci” (Luk 14:26), entah membenci orang tua atau diri kita sendiri, sebagai syarat menjadi murid-Nya, diartikan Tuhan Allah harus nomor satukan, sedang diri kita dan orang tua diletakkan pada nomor dua atau tiga. Yesus di depan. Salib di depan, dan ‘saya’ di belakang. Bukan lagi ‘ego sentris’ tetapi ‘Kristus sentris’.
Salib bukanlah beban bagi kita, karena dari salib Yesus kita akan melihat betapa baiknya Tuhan, karena salib Yesus yang meringankan beban salib kehidupan kita. Dengan ikut memanggul salib kita masing-masing, menapaki jejak jalan Salib-Nya, kita akan menjadi pengikut dan murid-Nya yang setia, dan yang tak pernah ditinggalakan-Nya. (THONNY)
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk dapat memberikan kesaksian hidup, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan yang nyata, yang menjadi berkat bagi sesama kita.
Janji: “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini : diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya” --- Mazmur 27:4
Pujian: Jonathan Christie juara pertama dan meraih medali emas dalam pertandingan bulu tangkis di ‘Asian Games 2018’. Ia menjadi pemenang yang sesungguhnya ketika menyatakan kemenangannya dengan membuat tanda salib, saat diwawancara mengungkapkan penyertaan Tuhan Yesus, dan juga ketika menjanjikan untuk menyisihkan sebagian uang bonus kemenangannya untuk membantu korban bencana alam di Lombok.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ