SANGKAL DIRI - PIKUL SALIB, DAN “NAPAK TILAS”

18 February 2021

Kamis, 18 Februari 2021

Ulangan 30:15-20

Mazmur 1:1-2.3.4.6

Lukas 9:22-25

 

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku”--- Lukas 9:23

 

UNTUK MENJADI MURID-NYA, Yesus memberi tiga syarat: menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari, serta mengikuti Dia (Luk. 9:23). Ketiga syarat itu harus dilihat sebagai satu kesatuan.

Melalui penyangkalan diri, orang menyerahkan diri kepada kuasa Allah Bapa, dan kepada Yesus, Sang Kurios (Tuan). Dalam konteks kekristenan, ini berarti kesediaan dan kesetiaan untuk setiap hari memanggul salib, yaitu penderitaan, penolakan, kesakitan, kekecewaan, serta aneka halangan hidup. Salib itu bukanlah salib ciptaan kita sendiri, atau ciptaan orang lain. Salib itu adalah salib Yesus yang sesungguhnya. Di sinilah, makna "mengikuti Yesus” (ay 23), memiliki tuntutan yang khusus.

Dalam Bahasa Yunani, kata kerja yang dipakai untuk ’mengikuti’, adalah akolouthein, yang artinya 'berada dalam satu keleuthos (= jalan) yang sama’. Maka, mengikuti Yesus, tidak boleh diartikan hanya sebagai berada di belakang Yesus, yang sedang berjalan—apalagi ‘memakai Yesus’ sebagai perisai--, tetapi lebih sebagai ‘menapaki dan mengikuti jejak-jejak kaki jalannya (Yun. keleuthos) Yesus’. Mungkin, ungkapan Bahasa Jawa, ‘napak tilas padha Dalem” (menapaki bekas kaki Dia), paling tepat untuk menunjukkan makna ‘mengikuti Yesus’ tersebut. Dan, jalan Yesus adalah jalan, yang dimulai dengan melaksanakan karya-karya kasih dan pengampunan bagi sesama, kesanggupan menderita bagi kepentingan orang lain, serta berpengharapan dalam kurnia kebangkitan-Nya.

Dalam bukunya The Cost of Discipleship (1937), Dietrich Bonhoeffer (1906-1945) menulis: "Saat Yesus memanggil seseorang, Dia minta kita untuk datang dan mati …. Menerima kematian untuk semua hal, yang ingin dimiliki oleh kedagingan diri kita, adalah apa yang dimaksudkan dengan panggilan Kristus untuk penyangkalan diri".

Inilah yang disebut oleh Paulus sebagai kemerdekaan baru, di mana manusia "tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh Allah yang diam di dalam manusia" (Rm 8:9). (WIT)


DOA: “Ya Allah, pada Masa Puasa ini, berikanlah  kesetiaan untuk selalu mengikuti tapak-tapak kaki-Mu. Tunjukkanlah jalan yang benar dalam berpuasa, berdoa, dan berderma, agar kemuliaan-Mu menjadi makin nyata di kalangan masyarakat”.

JANJI: “Sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang   fasik menuju kebinasaan” ---Mazmur 1:6

PUJIAN: Hidup askese St. Antonius Agung (251-356), Bapa para Pertapa dari Mesir, sangat keras. Melalui doa, puasa, dan matiraganya, ia mengasah diri untuk menjadi makin peka mendengarkan, dan mewujudkan suara serta kehendak Allah. Namun, Iblis tidak menyukainya. Antonius pun sering ‘disiksa dan diganggu’ oleh Iblis. Namun, imannya yang kokoh pada kerahiman  Allah, justru membuat Antonius menjadi ‘senjata Allah’ melawan si jahat. Banyak yang diselamatkan melalui perantaraan pertapa suci itu.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

 

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.