SEANDAINYA KITA ITU MURID YESUS....
22 May 2020
Jum'at, 22 Mei 2020
Novena Pentakosta (NP) Hari 1
Kisah Para Rasul 18:9-18
Mazmur 47:2—7
Yohanes 16: 20-23
“Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, ....tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” - Yohanes 16:20
SEANDAINYA KITA itu murid Yesus, dua ribu tahun yang lalu, mendengarkan sabda perpisahan Yesus, kira-kira rasa perasaan kita tak berbeda dengan rasa perasaan para murid yang ditinggal Yesus. Kita dapat membayangkan tiga tahunan kita telah bersama Yesus yang memanggil kita, siang dan malam bersama Dia, tiba-tiba Yesus berpamitan, bahwa kita tidak akan melihat Dia lagi. Tidakkah benak kita juga akan dipenuhi dengan pertanyaan yang sama? “Bagaimana mungkin Dia begitu saja meninggakan kita, sedang kita dan Yesus telah begitu akrab hidup dan pelayanan bersama selama tiga tahunan? Apakah Yesus itu tidak menyadari bahwa kita-kita ini telah meningggalkan segala-galanya demi Dia untuk dapat ikut bergabung dengan-Nya – dan sekarang Dia mau meninggalkan kita begitu saja? Tidakkah Dia tahu dan sadar bahwa kami-kami nanti akan frustrasi, bubar dan buyar berantakan?”
Yesus tahu sekali akan kesedihan dan duka para murid-Nya! Yesus memanfaatkan saat-saat itu untuk menjamah rasa perasaan hati yang berduka dan sedih dari para murid-Nya yang mengalami kepedihan mendalam karena wafat-Nya.
Narasi ini memberi kita semacam angan-angan bagaimana kalau teman dekat mengucapkan selamat tinggal selamanya kepada sahabat dan kenalannya. Tetapi Yesus tidak tinggal saja pada kesedihan dan kedukaan, karena hal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari suasana hati bila ada seseorang yang dekat hati dipanggil Tuhan. Tuhan justru berjanji suasana duka dan sedih itu akan berubah. Dan pada akhirnya nanti, akan ada perjumpaan kembali di surga akan menghapus semua kesedihan, Ia akan membawa sukacita dan kegembiraan yang mengatasi susah sedih saat wafat-Nya.
Dan kita? Mungkin kita kehilangan orang tua kita, pasangan hidup kita, anak atau sahabat dekat. Semakin dekat relasi dengan kita, semakin berat pukulan sedih dan duka karena kepergiannya. Itulah sebabnya meninggalnya pasangan hidup jauh lebih berat menanggungnya! Tetapi justru di sini sabda-sabda Yesus mengena pada duka dan kesedihan kita, “Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (Yoh 16: 22).
Allah tahu juga kalau emosi – rasa perasaan kita- dapat begitu hebat, tetapi juga Ia berjanji, kalau kita mau mengangkat mata kita yang penuh air mata itu ke arah iman, kita tahu akan ada hiburan daripada-Nya. Rasa pedih di hati kita mungkin tidak segera lenyap begitu saja, meski kita meneruskan perjalanan hidup kita. Tetapi hidup kita tak akan sama lagi. Karena itu bisa saja, lebih dari yang sudah-sudah, kita lalu lebih mengharap akan Kedatangan Yesus yang kedua, dengan kerinduan pribadi yang besar. Saat itulah mulai harapan akan surga itu bukan samar-samar lagi, tetapi suatu kepastian bahwa kita akan berjumpa lagi dengan pribadi orang-orang yang kita cintai, tanpa rasa was-was dan takut bahwa akan terjadi perpisahan kembali. Saat itulah kesediahan kita akan berubah menjadi sukacita.
DOA: Yesus, Engkau andalanku. Di tengah pedih dan duka berkabung, aku percaya bahwa Engkau akan mempersatukan kami kembali. Datanglah ya Yesus, Tuhan !
JANJI: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya” - Bait pengantar Injil (Luk 24:26).
PUJIAN: Seorang katekis menegaskan dalam pelajarannya tentang ‘peringatan doa arwah’, “Kita dalam memperingati arwah di hari ke-3, ke-7, ke-40 dan ke -100, perlu ditekankan segi hiburan dari Tuhan dan dari kita warganya, serta membangkitkan iman akan akhir zaman kedatangan Kristus kedua di mana kita akan berjumpa kembali dengan saudara-saudara dan teman yang telah mendahului kita menghadap Bapa. Mereka yang telah berbahagian di sisi Bapa, mendoakan kita yang masih berjuang dalam pergumulan hidup.”
Penanggung Jawab Renungan: Rm. Subroto Wijdojo, SJ