SEMANGAT PELAYANAN
25 July 2018
Rabu, 25 Juli 2018
St. Yakobus, Ras
2 Korintus 4:7-15
Mazmur 126:1-6
Matius 20:20-28
“Barang siapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu!” --- Matius 20:26-27
HARI INI PESTA peringatan Santo Yakobus, saudara Yohanes, rasul pilihan Yesus. Apa yang diminta oleh Ibu Zebedeus, adalah sangat manusiawi. Kalau nanti Yesus jadi ‘berkuasa’, ia meminta kedua anaknya mendapat tempat ‘yang basah’. Ini juga budaya zaman sekarang di negeri kita. Salah seorang anggota keluarga berkedudukan tinggi, kita sanak keluarga datang padanya dan meminta ‘jatah’ untuk ikut menjadi pegawainya dan mendapat kedudukan yang layak.
Yesus langsung menanggapinya. Tetapi tanggapan Yesus membuat Yakobus dan Yohanes serta para rasul lainnya yang marah dan iri, terdiam. Justru Yesus membuat mereka sadar apa itu artinya kalau menjadi murid Yesus. Tidak mengikuti pola pikir dunia.
Pemimpin sejati dan sebenarnya ialah orang yang melayani, yang mengabdi. Melayani sama sekali tidak membawa ke pengakuan dari orang-orang lain sebagaimana kita harapkan. Bagi Yakobus, itu berarti puluhan tahun menjadi misionaris, imam dan rasul di Spanyol mewartakan Injil dan menjadi gembala, dan berujung pada ‘kemartiran’.
Sikap kita terhadap ‘pelayanan’ perlu dikoreksi. Adalah manusiawi kalau kita mengharapkan diakui dan dikenal, meski kita tahu bahwa Tuhan pernah bersabda, yang pertama akan menjadi yang terakhir dan terakhir akan menjadi yang pertama. Kiranya lebih baik langsung berusaha untuk melayani dan mengabdi daripada menunggu sampai merasa sempurna. Itulah yang dilakukan rasul Yakobus. Dia tak membiarkan dirinya ditahan oleh rasa ketidak sempurnaan.
Yang penting kita terus berusaha untuk mengabdikan diri melayani Tuhan. Ikuti teladan Ibu Teresa dari Kalkuta, melakukan hal-hal yang kecil dengan semangat kasih yang besar. Juga seandainya kita melakukan pekerjaan yang sangat sederhana dan dengan semangat kasih yang kecil, kita tetap melakukannya. Tuhan tentu tahu dan berkenan memberkatinya.
Doa: Tuhan, terima kasih sekali, bahwa telah berkenan memanggilku ke dalam pelayanan dan pengabdian kepada-Mu.
Janji: “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami sendiri” --- 2 Korintus 4:7
Pujian: Pak Sastra tertarik menjadi pro-diakon. Setelah beberapa kali latihan, dia dianggap lulus dan diajukan ke Keuskupan. Bulan berikutnya ia mulai bertugas. Ia merasa bangga berdiri di panti imam dan membagikan Komuni kudus. Suatu ketika ia berdoa syukur, dirinya ditegur Tuhan, menjadi prodiakon bukan untuk ‘mejeng’ tetapi benar-benar untuk melayani umat dengan rendah hati.
Penanggung jawab RH: Rm Subroto Widjojo, SJ