SENGSARA, WAFAT, DAN KEBANGKITAN ITU SATU

21 April 2022

?Kamis, 21 April 2022

Kisah Para Rasul 3:11-26;

Mazmur 8:2a.5.6-7.8-9;

Lukas 24:35-48.

 

“Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan l

ihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya,

seperti yang kamu lihat ada pada-Ku”.

Lukas 24:39

 

          ADA HAL YANG KHUSUS dalam kisah-kisah Injil, saat Yesus Kristus yang bangkit, menampakkan Diri-Nya kepada para murid-Nya. Dia selalu mengundang mereka untuk ‘melihat luka-luka di tangan, kaki, serta di lambung-Nya’. “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku; Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah” (Luk 24: 38-39.40). Pada versi Injil Yohanes, ditambahkan penampakan lambung. Sesudah berkata “Damai sejahtera bagi kamu”, Yesus “menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka” (Yoh 20:19-20). Hal yang sama diulang ketika berhadapan dengan Tomas yang tidak percaya: “Taruhlah jarimu di sini, dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu, dan taruhlah ke lambung-Ku” (Yoh 20: 27).

          Tampaknya, dengan menekankan penampakan luka-luka Yesus, para penginjil ingin menunjukkan bahwa sengsara dan salib Yesus, jangan dipisahkan dari kebangkitan-Nya. Ketiganya merupakan sebuah kesatuan, karena di situlah kematian dikalahkan, dan keselamatan abadi dianugerahkan.

          Salib Yesus menjadi tanda penebusan manusia. Ia membuka pintu Surga, serta memberi kunci ke Firdaus, seperti telah dialami oleh penjahat yang disalibkan bersama Yesus (lih. Luk 23:43). Wafat-Nya menjadikan “banyak orang kudus, yang telah meninggal, dibangkitkan” (lih. Mat 27:52). Sedangkan, kebangkitan Yesus Kristus itu menjadi permulaan hidup yang baru bagi seluruh umat manusia.

          Dengan menyatukan ‘sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus’, Lukas menunjukkan kembali ajaran Yesus mengenai Diri-Nya seperti tertulis pada Kitab Suci. “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan (lagi) ‘dalam Nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamulah saksi-saksi dari semuanya” (Luk 24:47-48; lih. juga tiga pemberitahuan mengenai penderitaan Yesus pada Luk. 9:22-27. 43-45; 18:31-34, dan sejajarnya).

          Apa maknanya?

          Warta dan kesaksian mengenai Yesus Kristus adalah warta dan kesaksian mengenai sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.  Memang kita adalah ‘Easter People’ dan lagu kita adalah ‘Alleluia’, kata St. Yohanes Paulus II, saat berada di Adelaide, Australia, 30 Nopember 1986. Namun, jangan menganggap, hidup kita itu selalu indah. Kita harus tetap menyadari adanya kegelapan dan dosa, kemiskinan dan penderitaan. “Melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan dosa dan maut, serta membawa kemuliaan-Nya bagi kita semua”, tambahnya.

          Mutlak, kita harus menjalani Jalan Salib dan Kematian Yesus Kristus. “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikuti Aku” (Luk 9: 23).

          Di sinilah, hidup Gereja tidak semata diukur dari keberhasilan dan succes stories-nya, tetapi juga oleh penderitaan yang dialaminya. Maka, ketika Gereja menafikan penderitaan dan kesengsaraan, maka sesungguhnya ia menyangkal Salib, dan dengan sendirinya menyangkal Kebangkitan. Salib Gereja adalah salib dengan ‘Corpus’, bukan salib ‘polos’ - kayu palang ksosong-, yang bisa diisi semaunya. Mari kita renungkan bersama. (Witdarmono).

 

DOA  : “Ya Allah yang Mahakasih, bukalah hati kami agar dalam keadaan apapun, senang atau susah, nyaman atau menderita, kami tetap mampu melihat Tangan dan Wajah-Mu yang membimbing dan memberkati kami dengan rahmar-Mu”.

JANJI: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”. 

            Mazmur 8:4-5

PUJIAN :  Mazmur 8, khususnya ayat 3, dipakai pada Matius  21:16 untuk ‘melawan’ mereka yang menentang dan mengritik kuasa Yesus menyucikan Kenisah Yerusalem. Ditunjukkan bahwa ‘bayi-bayi’ sebagai represantasi orang kecil, sepele, dan tak berdaya, adalah mereka yang akan mampu melihat kemuliaan Allah. Pemazmur kemudian memang melanjutkan bahwa mereka yang kecil itu telah diciptakan oleh Allah “hampir sama seperti Diri-Nya; mereka telah dimahkotai dengan kemuliaan, hormat, dan kekuasaan untuk membawahi semua di bawah kaki mereka” (lih. Mzm 8:6-10). Pesan untuk kita, dalam masa Paskah ini, jangan pernah mengabaikan pelayanan untuk kaum papa dan mereka yang dilupakan. Merekalah pewarta dan saksi hidup Yesus Kristus yang paling tajam, sebab dalam ‘kekosongan’ mereka, Allah lebih ‘muncul’.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.