“SI VIS PACEM, PARA BELLUM”

22 May 2022

Minggu, 22 Mei 2022 

 Kisah Para Rasul 15:1-2. 22-29;

  Mazmur 67:2-3.5.6.8;

  Wahyu 21:10-14.22-23;

  Yohanes 14:23-29

  

“Damai menyeluruh (sejahtera) Kutinggalkan bagimu. Damai menyeluruh-Ku (sejahtera), Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”.

Yohanes 14:27.

 

          “SI VIS PACEM, PARA BELLUM, (jika engkau menghendaki kedamaian, maka siapkanlah perang !)”, kata Titus Livius (59 Seb.Mas.-17 Mas.), sejarahwan Roma, yang terkenal dengan 142 seri buku Ab Urbe Condita (‘Sejak Kota (Roma) Dibangun’).

        Menurut Livius, meskipun adagium, ‘pepatah singkat’ itu merupakan pandangan dari mereka yang kurang memikirkan peradaban manusia, namun itulah yang terjadi di dunia. Manusia merasa, dengan menunjukkan kekuatannya, lawan akan takut, tunduk, dan memilih perdamaian. Contoh terakhir adalah kejadian di Ukrania, ketika ‘kekuatan tertentu’ berencana unjuk diri, bereksistensi di perbatasan tetangga, mirip dengan ‘Krisis 13 hari Senjata Nuklir di Kuba bulan Oktober 1962’. Si vis pacem, para bellum hanya membuat dunia dan kemanusiaan makin gelisah.

        Yesus samasekali tidak menghendaki damai model adagium dari Livius. Ia menghendaki dan menganugerahkan sebuah damai, yang ada pada Diri Pribadi Yesus sendiri. 

“Damai (Yun. eir?n?) yang menyeluruh, Kutinggalkan bagimu. Damai menyeluruh-Ku, Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27).

        Makna dari ungkapan eir?n? (damai) adalah ‘sebuah situasi di mana secara menyeluruh semuanya disatukan bersama’. Bila Yesus mengatakan, “damai menyeluruh-Ku, atau eir?n?-Ku”, maka itu harus dipahami sebagai “kesatuan Yesus Kristus dengan Bapa, dan seperti kesatuan Ilahi tersebut, demikian pula manusia disatukan dengan Diri-Nya’ (Yoh. 17:11-12). Eir?n? semacam itulah, yang membuat para pengikut Kristus tidak akan gelisah atau gentar. Dalam damai anugerah Yesus Kristus itu, tidak perlu ada ‘paratus belli’, atau persiapan perang.

     Damai, ‘eir?n?’ (Yun.), atau ‘shalom’ (Ibr.), merupakan ciri dasar Kerajaan Allah, yang sudah diwartakan dalam PL  (mis. Bil. 6:26; Mzm. 29:11; Yes. 9:6-7; 52:7, dsb.). Dalam PB, hakekat dari ‘shalom’ itu memiliki tiga dimensi.

Pertama, ada damai, karena Kristus telah membawa dosa kita dalam Salib-Nya. “Kita telah diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Putra-Nya” (Rom. 5:10-11).

Kedua, shalom tersebut hanya bisa dirasakan, bila pertama-tama orang memiliki rasa damai dengan Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Maka kesatuan dengan Yesus Kristus menjadi prasyarat utama dari shalom tersebut. “Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yoh. 14: 17).

Ketiga, shalom dari Allah adalah shalom bagi sesama. “Karena Dialah ‘damai menyeluruh’ kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef. 2: 14).

     Penghayatan terhadap tiga dimensi shalom Yesus Kristus sebagai anugerah Ilahi tersebut, hanya akan menjadi sebuah kenyataan, apabila diikuti, dirasakan, dan dialami dalam kehidupan sehari-hari. (Witdarmono).

 

DOA  : “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai”.

JANJI: “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di Bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa”. Mazmur 67: 2-3.

PUJIAN :  Untuk pertama kalinya, doa “Jadikanlah aku pembawa damai” menjadi terkenal pada th 1915. Karena doa tersebut mencerminkan semangat kesederhanaan dan kemiskinan St. Fransiskus dari Asisi (1181-1226), maka doa tersebut dianggap dan dipercaya sebagai doa dari tokoh suci tersebut. Namun, menurut R.P. Kajetan Esser, OFM (1913-1978), seorang sejahrawan yang banyak menulis mengenai St. Fransiskus Asisi, doa itu bukan karya Fransiskus. Menurut tulisan Frieder Schulz pada 1968, doa “Jadikanlah aku pembawa damai” itu muncul pertama kalinya di Prancis sebelum Perang Dunia I (1914-1918), ditulis pada lembar balik gambar St. Fransiskus Asisi. Tidak ada nama pembuat doa tersebut. Namun, doa itu kemudian secara populer dikenal sebagai ‘doa perdamaian dari St. Fransiskus’. Menjelang PD II (1939-1945), setiap hari BBC menyiarkan doa tersebut dalam Bahasa Inggris. Tampaknya ‘semangat perdamaian’ ini melampaui bingkai-bingkai sejarah. Ingat ‘mohon untuk menjadi pembawa damai’, ingat St. Fransiskus Asisi. Ingat shalom atau eir?n?’ sejati, ingat anugerah Yesus Kristus. Inilah yang terpenting.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.