SIAGA DAN BERJAGA
26 August 2022
Jumat, 27 Agustus 2022
I Kor 1: 17-25
Mazmur 33: 1-2, 4-5, 10-11
Matius 25: 1-13
“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya”
Matius 25: 13
INJIL MATIUS Bab 24-25, berjudul “Kotbah Tentang Akhir Zaman”. ‘Akhir Zaman tiada lain tentang ‘Kedatangan Anak Manusia’ yang tidak diketahui kapan (Mat 24:27). Ini digambarkan dengan perumpamaan ‘Pohon Ara’ (Mat 24: 29-36). Oleh karena itu Yesus lalu memberi nasehat kepada kita agar kita ‘siaga dan berjaga’ (Mat 24:44). nasehat supaya berjaga ini, Yesus menggunakan perumpamaan ‘hamba yang setia dan yang jahat’ (Mat 24: 45-51), ‘Gadis yang bijaksana dan yang bodoh’ (Mat 25: 1-13). Dalam kita menunggu kedatangan-Nya, dengan siyaga itu, kita diminta untuk pandai-pandai mengelola waktu dan menggunakan semua talenta yang Tuhan anugerahkan supaya berlipat ganda hasilnya (Mat 25: 14-30), dan ditutup dengan gambaran ‘Pengadilan Akhir’ (Mat 25: 31-46).
Dan dalam Injil hari ini, tentang ‘gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh’ (Mat 25: 1-13). Dalam kisahnya, gadis-gadis yang bodoh itu tertidur, sewaktu ‘mempelai datang’, ditambah lagi persediaan minyak untuk pelita tidak ada! Maka mereka ketuk-ketuk pintu untuk masuk dan ikut menyambut bahagia sang mempelai. Mereka ditolak, karena mereka dinyatakan ‘tidak dikenal’. Dan,Yesus menutup ajaran-Nya, dengan pesan: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya” (Mat 25:13).
Di sini sekali lagi Tuhan memperingatkan kita agar kita ‘berjaga-jaga’. Mempersiapkan diri kita menyambut apa yang akan terjadi? Apakah yang terjadi dalam hidup kita ini sebagai pemenuhan dari rencana Allah? atau sebaliknya merupakan hasil dari miskinnya perencanaan dari pihak kita?
Dalam berjaga, kita perlu berfokus pemikiran dan energi kita pada apa yang paling penting dalam hidup kita! Tentu saja yang terpenting adalah relasi, relasi pertama dan utama dengan Tuhan Allah sendiri, relasi yang pribadi dan akrab. Baru kita pikirkan relasi kita dengan diri kita sendiri, baru kemudian dengan sesama kita. Kita perlu hidup dengan murni, yang ada kebenaran dan kejujuran, dan memiliki sikap yang mudah mengampuni. Kita perlu mengatur waktu kita sebaik-baiknya secara seimbang. Ada waktu untuk bersenda-gurau, nonton tv, menikmati suguhan ‘Youtube’ yang berguna dan mencerahkan. Tetapi yang paling tidak boleh dilupakan, ada waktu yang tidak boleh diganggugugat ialah untuk menghadap Tuhan dalam doa dan mendoakan sesama kita yang membutuhkan dukungan doa, secara teratur.
Praktek-pratek rohani, yakni doa-doa devosi kita - apapun- semoga membawa kita ke kesadaran yang lebih dalam setiap harinya. Usaha kita ini selalu kita sertai dengan percaya dan pasrah total akan penyelenggaraan-Nya.
(S.W)
DOA : ‘Tuhan, bantulah diri kami agar tetap selalu siaga dan berjaga!
JANJI : “Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan, pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1 Korintus 1: 18).
PUJIAN: Pak Haryanto telah memasang ‘alarm’ pada HP-nya, untuk bangun pukul lima pagi. Ia memulai harinya dengan berdoa pagi, dan renungan berdasar bacaan Misa harian, meski ia tak mungkin bisa menghadiri Misa tiap hari. Ia tutup renungannya dengan mendoakan keluarga dan teman-temannya, memohon berkat untuk kesibukannya di hari itu, baik di rumah maupun di tempat kerja. Ia tidak pernah lupa mengingatkan kedua anaknya berdoa ‘Malaikat Tuhan’, tiga kali sehari, pukul enam pagi, 12 siang dan pukul 18 atau enam sore.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ