SIAP UNTUK RENDAH HATI?
31 October 2020
Sabtu, 31 Oktober 2020
Alphonsus Rodriquez
Filipi 1:18b-26
Mazmur 42:2-3.5
Lukas 15:1.7-11
“Apabila engkau diundang, pergilah duduk
di tempat yang paling rendah” --- Lukas 14: 10
DALAM UUD ’45, kita sebagai warga negeri RI, berhak sama di hadapan Hukum. Itu tertulis di Pasa 27, yang berbunyi “Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” Kita masing-masing memiliki ‘harga diri’ mempunyai ‘martabat’, yang perlu kita saling hormati. Kita bisa tersinggung dan sakit hati kalau hak-hak kita dilanggar orang.
Dalam Injil , ada peristiwa unik dalam cara Yesus mengajar. Biasa Dia mengajar para murid lewat perumpamaan-perumpamaan. Tetapi kali ini Ia mengajar kita bertumpu pada peristiwa, seperti pada peristiwa “seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser yaitu satu duit”. Yesus lalu berkomentar, “janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada orang-orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan” (Mrk 12: 41-44).
Demikian pula dalam Injil hari ini. Waktu itu nampak oarng berebutan duduk di depan di tempat terhormat. Apa komentar Yesus ? Ia berkomentar sekaligus memberi pengajaran tentang ‘kerendahan hati’ . “Apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. … tuan rumah akan berkata kepadamu, ‘Sahabat, silahkan duduk di depan…” (Luk 14: 10).
Yesus mengajak kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati, dengan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Rendah hati berarti tidak sombong diri dan tidak merendahkan orang lain. Rendah hati berarti kita memberi kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Di hadapan hukum negara, kita semua sama. Tetapi di hadapan Allah, kita yang mau ber-rendah hati, akan mendapatkan tempat yang paling utama. Dan kalau kita bersikap sombong, kita akan mendapatkan tempat yang paling rendah. “Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan” (Luk 14: 10).
Kalau kita siap untuk ber-rendah hati, kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki , termasuk hidup kita ini - adalah milik atau anugerah Allah. Tiada alasan bagi kita untuk bermegah diri dan merendahkan orang lain. Baik di hadapan Hukum Negara maupun di hadapan Allah, karena pada dasarnya kita sama.
Tepatlah, dalam Prefasi Doa Syukur Agung , kita akhiri dengan kata-kata “selayaknya kami selalu bersyukur kepada-Mu dan melambungkan pujian…”. Bersikap rendah hati, berarti menggunakan dan memanfaat segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita dengan bijaksana serta selalu ingat orang lain.
Semakin kita bersedia mau rendah hati, semakin mudah kita mengucap syukur, dan semakin sering kita mengucap syukur semakin kita dekat dan akrab dengan Tuhan Allah dan sesama kita.
DOA : Tuhan , ajarilah kami selalu rendah hati !
JANJI : “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah
keuntungan” --- Filipi 1: 21
PUJIAN: Hari ini kita peringati Santo Alphosus Rodriquez (1533-1617), seorang Bruder Yesuit. Mulanya seorang ayah, setelah istri meninggal, di usia 40 tahun, ia memutuskan untuk masuk ke Tarekat Yesuit. Dengan rendah hati, sebagai Bruder Yesuit, ia menerima tugas sebagai penjaga pintu sebuah Kolese Palma di Mayorka, Italia, selama 46 tahun.