SIMBOL PENANGKAPAN IKAN SETELAH KEBANGKITAN YESUS

22 April 2022

Jumat, 22 April 2022

Kisah para Rasul 4:1-12;

Mazmur 118:1-2.4.22-24.25-27a;       

Yohanes 21:1-14.

  

“Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia,

sebab di bawah kolong langit ini, tidak ada nama lain yang

diberikan kepada manusia, yang olehnya kita dapat diselamatkan”.

Kisah Para Rasul 4:12

 

          LEPAS DARI BERBAGAI PENDAPAT bahwa Yohanes 21 tidak menjadi bagian dari Injil Keempat, kisah penangkapan ikan di Danau Tiberias atau Genesaret pada Yohanes 21:1-14 ini, mirip dengan kisah pada Lukas 5:4-11. Yang berbeda adalah kerangkanya. Pada Lukas bab 5, kisah ini terjadi pada awal karya Yesus. Sedangkan pada Yohanes, kisah tersebut terjadi setelah Kebangkitan Yesus. Perbedaan konteks inilah yang menjadi dasar penafsiran dan cara pandang yang berbeda. Dalam Injil, semua peristiwa, yang diceritakan setelah Kebangkitan Yesus, selalu lebih banyak memiliki makna simbolis mengenai masa depan kehidupan Gereja, sebagai ‘Easter People’.

          Ada ada beberapa makna simbolis yang pantas dicermati ?

          Dalam kisah Yohanes bab 21 ini, yang pertama mengenali Yesus dan mengatakan kepada Petrus: “Itu Tuhan” (Yoh. 21:7), adalah ‘murid yang dikasihi Yesus’. Kedekatan imannya kepada Yesus, membuat ‘murid terkasih itu’—Yohanes--, mengenali Kurios-nya. Namun, yang kemudian bergegas terjun ke dalam danau adalah Petrus. Tampaknya, penginjil Yohanes meletakkan posisi Petrus sebagai yang ‘primus’ atau yang pertama (bdk. Yoh 20:6, di mana meski Yohanes lebih dahulu sampai ke makam, tetapi ia ‘membiarkan’ Petrus masuk lebih dahulu). Peran Petrus sebagai primat inilah, yang nanti menjadi dasar perutusan Gereja. Kepada Petrus lah, Yesus mengatakan “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (lih. Yoh 21:15.16.17).

          Pada kisah Yohanes bab 21 ini, jumlah ikan yang ditangkap adalah 153 ekor, dan “jalanya tidak koyak” (Yoh. 21: 11). Berdasarkan tafsiran dari Yeheskiel 47: 6-12, angka 153 adalah jumlah seluruh jenis ikan yang ada di bumi, seperti zaman itu baru diketahui oleh para ahli zoologi Yunani kuno. Melalui bilangan 153 itu, Yohanes ingin menggambarkan bahwa ‘seluruh umat manusia’ dari segala suku dan bangsa sedang ‘ditarik dan dihela’ (ay. 6. 11) ke dalam perahu Gereja. Ini mengingatkan sabda Yesus pada Yoh 12:32: “ ”. Ini maknanya adalah bahwa melalui ‘sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus’, seluruh umat manusia—dilambangkan dengan bilangan 153—, akan ‘ditarik’ ke dalam satu kapal, seperti ditunjukkan pada Yohanes 21: 3.8. Yang khas adalah, pada Yohanes 21:11, diperlihatkan bahwa ‘jala’--sebagai gambaran Gereja--, yang menampung seluruh keragaman umat itu, ‘tidak koyak’ (Yun. schizó); artinya, tidak membuat skisma atau perpecahan. Hal ini karena seperti ditunjukkan sebelumnya, ‘kapal’ (Gereja) untuk menangkap ‘ikan (umat)’ itu hanya satu, bukan dua seperti pada Lukas 5:7. Artinya, kesatuan umat gerejani yang sejati adalah apabila hanya ada satu Gereja saja. Dan, melalui perikop Yohanes 21: 15-19 ini, ditunjukkan, tugas pastoral atau penggembalaan Gereja tersebut, diletakkan pertama-tama pada bahu Petrus. Inilah semua makna dari kisah penangkapan ikan, yang diletakkan dalam konteks ‘Kebangkitan Yesus Kristus’.

          Yohanes kemudian menutup kisah ini dengan menulis. “inilah ketiga kalinya Yesus menampakkan Diri kepada para murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati” (Yoh 21:14). Ada finalitas dalam mission membangun dasar bangunan Gereja masa depan. Inilah ‘Easter People’ yang sesungguhnya. Layaklah untuk kemudian menyanyikan ‘Hallelujah’, pujilah TUHAN. (Witdarmono).

 

DOA : “Ya Allah, tambahkanlah iman bagi kami, serta satukanlah kami sehingga menjadi pujian bagi Kemuliaan-Mu”.

JANJI:  “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita”.  Mazmur 118:22-23

PUJIAN:  Sejak zaman Gereja Perdana Abad I, ada ratusan, bahkan mungkin ribuan skisma, atau perpecahan dalam agama, yang terjadi. Skisma besar yang mudah diingat adalah perpecahan antara Gereja Romawi (Barat) dan Gereja Ortodoks (Timur) tahun 1054, serta munculnya Gereja Reformasi, yang dipelopori oleh Martin Luther (1483-1546)  pada pertengahan Abad XVI. Yang unik, dalam pergolakan berbagai skisma itu, Gereja Katolik tetap satu. Rahasianya hanya satu, yaitu tetap berpegang pada tiga pilar penyangganya: Tradisi Suci, Kitab Suci, dan Magisterium. Mari terus kita dalami ketiga pilar tersebut demi kesatuan dan keutuhan Gereja kita.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.