SIMEON OH SIMEON
29 December 2021
Rabu, 29 Desember 2021
1 Yohanes 2:3-11
Mazmur 96: 1-5, 5-6
Lukas 2: 22-35
“Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan seperti tertulis dan hukum Tuhan: ‘semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”
Lukas 2: 22-23
KITA BISA berangan-angan sewaktu Simeon masih muda, sekian puluh tahun sebelumnya. Karena ia tinggal di kota Yerusalem, maka tiap hari ia bisa berdoa di Bait Suci.
Sewaktu masih muda itu, kalau orang melihat Simeon pergi menuju Bait suci untuk berdoa, ada yang berkomentar: ‘Tu, tu, Simeon pergi lagi ke Bait suci. Yang lain menimpalinya: ‘Ya ia tiap hari berdoa ke sana. Ia memohon untuk datangnya Yang Terurapi dan Pembebas bangsa Israel’. Yang lain lagi berkomentar, ‘Wow, semangatnya menyala. Tetapi sabar dan tunggu saja, kuat sampai kapan?’
Tahun demi tahun berlalu, demikian juga masa muda Simeon ikut berlalu. Tentu ada pertanyaan dari orang-orang, entah berapa ribu, mengengai ujudnya Simeon berdoa di Bait suci. Ia simpan itu semua dalam benak dan hatinya. Tentu Simeon pernah berdoa Mazmur 77, di mana ada ayat-ayat yang berbunyi: “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi ? Sudah lenyaplah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirlah janji itu berlaku turun-termurun ? Sudah lupakah menaruh kasihan atau ditutupnya rahmat-Nya karena murka-Nya?”(Mzm 77: 7-10).
Tetapi Simeon adalah Simeon. Ia tak pernah ragu-ragu atas Janji Allah itu. Ia pernah mendapat pernyataan dalam Roh Kudus, bahwa ‘ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi - Tuhan’ (Luk 2: 26).
Akhirnya harinya tiba, apa yang dilihat oleh Simeon yang sudah tua itu ? Mesias datang ke Yerusalem tidak dalam segala kemuliaan-Nya. Simeon melihat dengan mata hatinya sepasang suami-istri muda membawa bayi kecil berada dalam kerumunan mau masuk menuju Bait suci. Bagaimana ia dapat mengenali-Nya ? Simeon telah terbiasa dengan suara Tuhan sesudah bertahun setia berdoa. Saat itu Roh Kudus berbisik dalam hatinya: ‘Nah, itulah Dia !’ Lalu ‘Apa bagi kita’ ?
Kesetiaan dan ketekunan Simeon dalam doa dapat menjadi teladan bagi kita. Selama hidupnya sampai saat itu, terasa doanya tak dikabulkan, tetapi ia tetap rajin berdoa ke Bait suci. Senyatanya Allah bekerja dalam hidup Simeon. meneguhkannya dan Tuhan mengajarinya untuk mengenali suara Tuhan.
Kadang kita sedang menanti lama sekali penghiburan dari Tuhan. Cukup sukar menanti dan menunggu sampai kapan janji atau doa kita itu akan terwujud . Kalau kita mau meneladan Simeon, siang dan malam berdoa, baik didengar atau tidak doa-doa kita itu. Kita percaya penuh, Tuhan Allah seperti dalam masalah Simeon, tetap bekerja penuh kuasa diam-diam dalam hidup kita. Dan hati dan budi kita lalu akan terbuka pada Roh Kudus, memungkinkan kita menyambut karunia-Nya dan melakukan apa yang menjadi dorongan Roh Kudus.
Seandainya itu tak terjadi, doa dan jawaban tak kunjung tiba, bisa berdoa dan tekun berdoa telah menjadi karunia dari-Nya. Tuhan akan membuka budi dan hati kita untuk lebih peka mendengarkan suara Roh Kudus dan mengajar kita karya Allah di dunia ini seputar kita, sebagaimana Simeon mengenal Sang Mesias yang Terurapi dalam diri sang Bayi. (S.Widjojo)
DOA : Ya Roh Kudus, bantulah kami bertekun dalam doa dan belajar mengenali suara-Mu.
JANJI : “Barang siapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” 1 Yohanes 2: 6
PUJIAN: Sewaktu Simeon menyambut Bayi Yesus , “ia menatang-Nya, sambil memuji Allah”. Pujian Simeon itu dengan judul dalam Bahasa Latin “Nunc Dimittis”, yang di-Indonesiakan menjadi “Sekarang, Tuhan, hamba-Mu ini pergi”. Keseluruhan Pujiannya (Luk 2: 29-32), menjadi bagian akhir dari Doa Malam dalam Ibadat Harian Gereja setiap malam.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ