SINKRETISME
19 August 2021
Kamis, 19 Agustus 2021
Hakim 11:29-39a
Mazmur 40:5, 7-10
Matius 22:1-14
“Bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” Hakim 11:30-31
BACAAN PERTAMA mengenai Yefta hari ini, menarik, penuh ketegangan, dan sekaligus menimbulkan banyak pertanyaan.
Sebelum Yefta memerangi bangsa Amon, ia bernazar: “Jika selamat dan menang, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, ...akan menjadi kepunyaan Yahwe, dan akan dipersembahkan sebagai korban bakaran.” Dan terjadilah, ketika Yefta pulang, yang pertama menemuinya adalah putri tunggalnya sendiri. Meski sedih, Yefta tetap tidak mau menarik nazarnya.
Namun, di sinilah muncul masalah yang pelik. Dalam Alkitab tertulis, mempersembahkan anak kepada para ilah merupakan “pelanggaran kekudusan nama Allah, sebab Dia adalah TUHAN” (lih. Im 18:21; 20:2-5; Ul 12:31; 18:10). Lalu, bagaimana mungkin Allah akan mengizinkan Yefta mengorbankan anak perempuannya? Bila Yefta benar-benar mengorbankan putri tunggalnya, mengapa dalam Ibr 11:32, ia tetap disebut sebagai ‘tokoh iman’, sejajar dengan Gideon, Barak, Simson, Daud, Samuel, dan para nabi?
Banyak penafsir KS menyimpulkan, nazar Yefta kepada Allah itu melebihi segala hal. Meski, mungkin itu tidak bagus, namun nazar adalah nazar. Bukankah Kitab Hakim juga memberi kesan bahwa putri tunggal Yefta itu hanyalah ‘persembahan yang hidup’? Artinya, meski itu menyedihkan, sampai akhir hidupnya, sang putri itu tetap tidak menikah. Itulah yang disebut ‘persembahan hidup’. Di sini, harus dipahami bahwa KS hanya melaporkan apa yang terjadi; tetapi tidak berarti, itu yang paling benar.
Memang sebaiknya kisah Yefta ini ditempatkan dalam keseluruhan kerangka Kitab Hakim, yang berkisah mengenai kerapuhan bangsa dan para pemimpin Israel. Akar kerapuhan itu adalah sinkretisme, atau keinginan untuk selalu memadukan berbagai paham dan aliran agama asing, demi keserasian, keseimbangan, dan kenyamanan. Gideon misalnya, demi kenyamanan hidupnya, membuat efod atau pakaian kudus imamat, yang kemudian disembah Israel (Hak. 8:22-27). Juga Simson, demi cintanya pada Delila, perempuan dari Lembah Sorek, terjerembab dalam perangkap orang-orang Filistin, yang menjadikannya budak penggilingan gandum (Hak. 16:4-22).
Sinkretrisme itulah, yang tidak dikehendaki oleh Yahwe, karena bisa memalsukan identitas Allah yang sesungguhnya. Iman Kristiani pun tidak mengenal kompromi. Secara tegas, Yesus mengatakan: “Barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk. 10:16). (WIT)
DOA: “Ya Allah, jangan biarkan kami terlena pada kenyamanan sesaat. Teguhkanlah kami di saat bimbang, serta kuatkan iman kami hanya kepada-Mu.”
JANJI: “Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!” Mazmur 40:5
PUJIAN: Agama Katolik sudah hadir di Cina sejak Abad XIII, sementara di Nusantara, kekatolikan baru mulai pada akhir Abad XIX. Namun, persentase umat Katolik Nusantara lebih tinggi ketimbang Cina: 2,9% berbanding 0,7% . Beberapa sosiolog agama mengatakan, kecilnya persentase umat Katolik Cina itu karena pada awal kehadirannya, Gereja terlalu banyak ber-sinkretis. Mereka pun ‘kalah’, karena kebudayaan dan praktik religiositas Cina, yang sudah berusia lebih dari 70 abad, jauh lebih ‘melekat’ ketimbang kekristenan, yang baru berusia 20 abad. Di sini tampak, ketika kekristenan kokoh dengan identitas budayanya (YahudiYunani), ia berkembang. Sebaliknya, bila ber-sinkretisme, Gereja menjadi luntur.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ