SKALA NILAI

21 February 2023

Selasa, 21 Februari 2023

Sirakh 2:1-11

Mazmur 37: 3-4.18-19. 27-28

Markus 9:30-37



“Anakku, jikalau engkau bersiap untuk mengabdi kepada Tuhan, maka bersedialah untuk pencobaan. Hendaklah hatimu tabah dan jadi teguh, dan jangan gelisah pada waktu yang malang. Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan, dalam kancah penghinaan”. --- Sirakh 2:1-2.5.

JADI ‘SOMEBODY’, dan punya kehormatan, itulah yang umumnya dicari orang zaman sekarang. Bukankah Mzm.8:6 mengatakan, Allah “telah membuat manusia hampir sama dengan Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat”? Yesus mengubah skala nilai itu dengan pengajaran privat untuk para murid-Nya. Dia bicara mengenai penolakan dan kematian (lih. Mrk. 9: 31). Namun, para murid tidak ‘nyambung’. Otak mereka masih sarat dengan soal jadi ‘somebody’, dan bagaimana menjadi yang terbesar. Yesus pun lalu memberi contoh. Ia mengambil anak kecil, yang dalam masyarakat zaman itu secara sosiologis berada pada strata paling bawah. Mereka adalah ‘nobody’, tidak punya hak, kedudukan, atau keistimewaan pribadi, dan ditolak dalam pengambilan keputusan. Tapi, justru yang ‘nobody’ itu, kini ditempatkan oleh Yesus di pusat, “di tengah-tengah mereka”, dan dipelukNya (ay.36).

Menganut skala nilai semacam Yesus ini, tidak mudah. Kita harus berani membuang segala penghalangnya, yaitu kebanggaan, kemuliaan diri, dan ambisi yang sia-sia. Tuhan menghendaki sebuah ‘bejana’ kosong yang bisa diisi dengan kemulian-Nya, kekuatan-Nya, dan dengan kasih-Nya (lih. 2 Kor.4:7). “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”, tulis surat Yakobus 4:6.

Mungkin, sikap para murid yang masih sulit menerima kehadiran anak-anak sebagai ‘somebody’ itu, membuat mereka impoten saat harus mengusir roh bisu, yang menguasai seorang anak pada kisah Mrk.9:14-29. Seperti ditulis dalam Kitab Sirakh, menjadi ‘somebody’ dengan mengabdi kepada Tuhan, harus “bersedia untuk (menjalani) pencobaan. … Sebab (seperti) emas diuji di dalam api, orang yang kepadanya Tuhan berkenan, diuji dalam kancah penghinaan” (lih. Sir. 2: 1.5). Inilah persiapan diri kita semua untuk menjalani Masa Puasa 40 hari. (WIT).

DOA: “Ya Roh Kudus, curahkanlah Terang-Mu agar kami mampu memberi prioritas kepada kemuliaan Allah melalui kerendahan hati dan pertobatan”.

JANJI: “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan”. - Mazmur 37:27-28.

PUJIAN: Hari Selasa ini adalah hari terakhir sebelum Masa Puasa, yang akan dimulai hari Rabu, esok hari. Di beberapa negara Kristen, sering masa menjelang Rabu Abu itu dipahami sebagai kesempatan terakhir ‘mengumbar’ kedagingan penuh lemak (Prancis: ‘gras’), sebelum nanti bertobat. Hari Selasa (Prancis: ‘Mardi’) menjelang Rabu Abu, menjadi puncak pengumbaran tersebut. Dari pemahaman itu muncullah pesta karnaval ‘Mardi Gras’ (Selasa ‘Berlemak’), di mana terkadang orang mabuk-mabukan, dan memuaskan hedonisme (Yun. h?don?: ‘pemuasan nafsu badaniah’), dengan melupakan segala yang luhur. Gereja sendiri menganjurkan, persiapan puasa yang benar adalah (1) merendahkan diri di hadapan Tuhan (lih. Ezr. 8:21), dan untuk itu mengaku dosa; (2) tidak sibuk dengan urusan sendiri (lih. Yes. 58:2-3a); (3) menunjukkan kasih pada sesama (lih. Yes. 58:6-7), serta (4) tidak berbuat jahat (lih. Yes. 58:4). Mari, mulai hari ini, kita baca teks-teks Kitab Suci tersebut.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.