St. Martinus dari Tours
11 November 2020
Rabu, 11 November 2020
St. Martinus dari Tours
Titus 3:1-7
Mazmur 23:1-3a, 3b-4, 5, 6
Lukas 17:11-19
Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya” ---- Lukas 17:15-16a
KISAH TENTANG sepuluh orang kusta dalam bacaan injil hari ini sangat menarik untuk kita renungkan. Dari sepuluh orang yang disembuhkan, hanya satu orang yang kembali untuk mengucap syukur. Kemanakah sembilan orang yang lain? Apakah mereka tidak bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang mereka terima?
Sepuluh orang itu memilih pergi kepada imam-imam untuk memperlihatkan diri atas kesembuhan yang mereka terima dari Yesus. Mereka lakukan itu tidaklah salah karena memang Yesuslah yang memerintahkan demikian kepada mereka. “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (Luk 17:14a). Dengan maksud agar mereka menunjukkan mujizat itu sambil memuliakan Tuhan di hadapan para imam yang memang kelompok para imam itu tidak percaya kepada Yesus. Akan tetapi, sepertinya mereka tidak melakukan demikian, mungkin karena larut dalam kegembiraan atas kesembuhan yang diterima sehingga lupa untuk memuliakan Tuhan. Hal ini nampak ketika Yesus bertanya kepada seorang yang Kembali datang dan tersungkur di hadapan Yesus untuk bersyukur. “Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain daripada orang asing ini?” (Luk 17:17b-18).
Meski dianggap ‘bidaah’ oleh orang Yahudi, orang Samaria itu ternyata telah berhasil membangun watak dan siakp dasar untuk bersyukur, sedang orang Yahudi yang menganggap diri mereka benar, tidak berhasil membangun sikap bersyukur kepada Tuhan.
Bagaimana kah dengan kita? Kita telah menerima segala yang terbaik dari Allah. Sudahkah kita mengucap syukur dan memuliakan Dia setiap hari dalam hidup kita? Seringkali kita lupa untuk bersyukur dan memuliakan-Nya, seperti kesembilan orang itu. Jangan-jangan kita belum berhasil membangun sikap dasar bersyukur dalam diri kita sendiri dan dalam diri anak-anak kita ! Sebagai seorang Kristiani sejati mestinya kita memiliki iman yang tahu bersyukur selalu, seperti seorang Samaria itu. (PTR)
DOA: Tuhan Yesus, bantulah aku agar senantiasa bersyukur dan memuliakan-Mu setiap hari dalam hidupku.
JANJI: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” ---- Mazmur 23:1
PUJIAN: Tulang Sitinjak, seorang kakek yang hidup dalam kesederhanaan dan tinggal seorang diri. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, ia sangat tergantung dari hasil penjualan pisang yang ia tanam sendiri. Meskipun kebunnya tidak menghasilkan setiap hari, namun ia senantiasa bersyukur dan percaya Tuhan telah menyediakan yang terbaik baginya. Dia sering menolak pemberian orang-orang di sekitar dan menyarankan mereka untuk memberikan bantuan itu kepada orang yang lebih membutuhkannya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ