STRATEGI PEMBERITAAN KERAJAAN ALLAH
22 January 2023
Minggu, 22 Januari 2023
Hari Minggu Biasa III - Hari Minggu Sabda Allah
Hari Kelima Pekan Doa Sedunia
Yesaya 8: 23b – 9: 3
Mazmur 27: 1. 4. 13-14
1 Korintus 1: 10-13. 17
Matius 4: 12-23 atau 4: 12-17
“Mari, ikutilah Aku”.
Matius 4:19
PENGINJIL MATIUS itu benar-benar seorang guru dan pengajar. Ia sangat rapi dan sistematis saat menyusun kisah mengenai Yesus Kristus.
Matius menulis, setelah mengusir Iblis, yang mencobainya di Gunung Quruntul (138 m) yang menghadap Kota Yerikho (-258 m) dan Laut Mati (- 435 m), Yesus tidak langsung pergi ke wilayah Yudea, pusat keagamaan Yahudi. Penangkapan Yohanes Pembaptis, membuat Yesus pergi ke Utara, ke Galilea, sekitar 106 km dari Yerikho. Ia datang ke daerah Zebulon dan Naftali, yang menurut Yes. 9:1-2 adalah ‘wilayah bangsa-bangsa, negeri yang dinaugi oleh maut’.
Menurut sejarah Israel, warga Zebulon dan Naftali, yang terletak di Kerajaan Utara, adalah kelompok pertama yang dibuang oleh Raja Asyur sekitar th. 722/721 Seb.Mas. Atas dasar itu, maka keturunan mereka sering dianggap sebagai ‘bangsa yang selalu diam dalam kegelapan’, bangsa yang harus dihindari karena telah ‘kotor’, serta tidak bisa dipercaya karena blasteran (Yahudi-Asyur)’.
Namun, melalui Matius ditunjukkan bahwa justru karya Yesus dimulai di wilayah kotor tersebut, sehingga ramalan Yes. 9:2 terpenuhi: “Bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang”.
Di wilayah semacam inilah, Yesus memberitakan pertobatan, “sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat. 4:17).
Pemilihan wilayah pertama karya Yesus itu sekaligus juga menunjukkan bahwa Dia adalah Gembala sejati, seperti digambarkan dalam Yeh. 34: 11-13. “Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku, … menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan … membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel…” (bdk. dengan Mat. 9:36).
LALU, untuk mewujudkan penggembalaan berkarakter penyelamatan model Yeheskiel tersebut, Yesus segera mencari dan memanggil murid-murid yang pertama (lih. Mat. 4:18-22).
Kelompok pertama adalah dua bersaudara penjala ikan, Simon dan Andreas, yang sedang “menebarkan jala di danau’. Atas dasar profesi tersebut, mereka dipanggil untuk ‘dijadikan penjala manusia’.
Ungkapan ini harus dilihat dalam konteks Yer.16:16-20, di mana Yahwe akan mengumpulkan manusia untuk diadili, seperti “penangkap ikan yang akan menangkap mereka untuk menilai perbuatan mereka” (lih. ay. 16.17). Melalui konteks ini, ditunjukkan bahwa makna panggilan mengikuti Yesus adalah untuk ikut dalam proses pengadilan Ilahi, seperti kemudian digambarkan pada Mat. 13:47-50: “mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan, dan ikan yang tidak baik dibuang … seperti malaikat memisahkan orang jahat dari orang benar”. Di sinilah, warta pertobatan menyambut kehadiran Kerajaan Allah (lih. Mat. 4:17), akan didahului dengan warta pemisahan yang baik dari yang jahat. ‘Khotbah di Bukit’ (Mat. 5-7) adalah pedoman mengenai ‘yang baik dan yang jahat’ menurut ukuran Allah.
Kemudian, kelompok kedua yang dipanggil, juga dua bersaudara Yakobus dan Yohanes, anak Zebedeus, yang sedang ‘membereskan jala di dalam perahu bersama dengan ayah mereka’. Mereka sedang menyelesaikan bisnis keluarga. Maka, ketika mereka menjawab panggilan Yesus, dua bersaudara itu meninggalkan ‘sarana kerja’ serta keluarga mereka. Inilah karakter panggilan rasul, yaitu meninggalkan kemapanan lama, untuk masuk dalam sebuah journey baru.
***
JOURNEY atau perjalanan merupakan unsur penting dalam panggilan Yesus. Ungkapan Yunani yang dipakai untuk ‘memanggil’ adalah ‘akoloutheo?’, yang merupakan gabungan dari prefix ‘a’ (alpha) dan ‘keleuthos’ (jalan), yang maknanya adalah: ‘berada dalam jalan yang sama’.
Di sinilah, panggilan Yesus adalah panggilan untuk ‘bersama-sama berjalan pada jalan yang sama yang ditempuh oleh Yesus’. Dan, jalan itu adalah jalan mengikuti ‘hidup, karya, sengsara dan kematian, serta kebangkitan Yesus Kristus’.
Strategi pemberitaan Kerajaan Allah bukan cuma berita belaka, tetapi perjalanan konkret sesuai dengan Jalan Kristus. Itulah hidup meng-Gereja! (WIT).
DOA: "Ya Bapa yang Mahakuasa, tuntunlah perjalanan hidup kami sesuai dengan jalan yang telah ditunjukkan oleh Yesus Kristus, Putra-Mu, dan diresapi oleh Roh Kudus-Mu’. Amin.
JANJI: “Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain”. Yesaya 8:23
PUJIAN: Mungkin kita tiba saatnya untuk meninjau kembali strategi pewartaan dan pelayanan iman dalam paroki kita masing-masing. Siapa atau kelompok mana, yang sesungguhnya kita beri prioritas utama? Lalu, apa bentuk pewartaan dan pelayanan iman seturut situasi paroki kita yang khas? Akhirnya, siapa yang paling tepat mengemban pewartaan dan pelayanan tersebut? Dalam semua ini, arah dasar pewartaan dan pelayanan iman adalah ‘jalan Yesus Kristus’. Perlu dirumuskan secara konkret, memang. Ini tugas Dewan Paroki Harian. Khususnya Seksi Katekese atau Pewartaan.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ