SUAMI-istri pisah?
25 February 2022
Jumat, 25 Februari 2022
Yakobus 5: 9-12
Mazmur 103: 1-4,8-9
Markus 10: 1-12
“Pada awal dunia Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”
Markus 10: 6-8
DALAM DOA pemberkatan Sakramen Perkawinan, pastor yang memberkati selalu menutupnya dengan kata kutipan Injil, “Apa yang telah dipersatukan Allah”, dan umat yang hadir dengan lantang menjawab , “tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Mrk 10:9; Mat 19: 6).
Apakah ada di antara saudara atau teman sahabat kita yang gagal dalam hidup ber-rumah tangga ? Kalau ada, kita lalu apa? Menyalahkan, menyayangkan mereka atau mencoba memahami persoalan yang mereka hadapi yang menyebabkan perpisahan ? Pernahkah kita mencoba memasuki rasa perasaan pasangan yang berpisah – betapa malu, pedih , sedih dan susah-sakitnya hati mereka ?
Meski dari kata-kata Yesus, nampak Yesus dalam hal hubungan suami-istri jelas dan tegas: tidak ada perceraian- sampai maut memisahkannya ! Tetapi Yesus tidak pernah mengucapkan kata-kata penghakiman dan penghukuman terhadap keluarga yang gagal dalam membangun rumah tangga. Ia tahu bahwa kita ini manusia lemah yang bisa berbuat salah, karena itulah Ia turun dari surga. Dan Dia tentu tidak bertindak secara legalistik , yakni dengan pendekatan peraturan dan hukum seperti orang-orang Farisi lakukan !
Contoh : Peristiwa ‘seorang perempuan tertangkap berbuat zinah , dibawa oleh orang Farisi dan ahli Taurat ke hadapan Yesus’ (Yoh 8:1-11). Menurut mereka, Hukum Musa harus diterapkan, yakni perempuan itu harus dilempari batu sampai mati. Mereka mencobai Yesus, dengan bertanya ‘apa pendapat-Mu tentang hal ini?’ Tidak dikisahkan apakah perempuan itu pernah menikah dan gagal dalam -perkawinannya atau tidak- yang jelas ‘kedapatan berbuat zinah!’ Sewaktu Yesus menghadapkan mereka-mereka, yakni orang Farisi dan ahli Taurat yang mendakwa, dengan dosa-dosa mereka, dengan berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Mendengar pernyataan itu mereka pergi satu persatu mulai dari yang tua.
Yesus lalu berkata kepada perempuan itu, “Akupun tidak menghukum engkau” (Yoh 8:11).
Demikian juga sewaktu Yesus berjumpa dengan wanita Samaria dan Dia meminta minum (Yoh 4:1-41). Dalam pembicaraan selanjutnya, Yesus meminta wanita itu memanggil suaminya. Wanita itu jujur bahwa betul dirinya tidak mempunyai suami, lelaki yang ada di rumahnya bukan suaminya. Dan Yesus membeberkan bahwa wanita itu sudah pernah lima kali bersuami. Di situ Yesus tidak berlanjut mengungkit dosanya apalagi menghukumnya.
Seandainya anda mengalami pedih dan pahitnya kegagalan dalam perkawinan, sikap Yesus tentu sama. Yesus tidak bertanya siapa yang salah dan terus mengungkit-ungkit dosa anda atau dosa orang lainnya. Tetapi kalau setan tentu berbuat sebaliknya ! Jangan kita mendengarkan bisikan iblis ! Yesus ingin sekali menyembuhkan anda. Ia bersedia menerima apa adanya, hati yang terluka dan patah dari hidup anda. Ia ingin memulihkannya. Terimalah pengampunan dan kasih kerahimanNya. (S.Widjojo).
DOA : “Ya Yesus, utuslah Roh Kudus-Mu kepada semua keluarga yang hidupnya patah dan terluka oleh perpisahan. Biarkanlah mereka mengalami kuat kuasa rahmat-Mu mematahkan rantai kebencian, saling-ketidak percayaan dan keengganan mengampuni!”
JANJI : “Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu!” Mazmur 103:3
PUJIAN: Dulu orang katolik dewasa siap nikah, wajib mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan. Sekarang Kursus itu diganti dengan nama “Membangun Rumah Tangga” atau MRT. Nampak Komisi Kerasulan Rumah Tangga lebih bertujuan membangun rumah tangga katolik yang harmonis. Pemberkatan Nikah menjadi awal Membangun Rumah Tangga yang kokoh, karena saat ini lebih banyak tantangannya pada keluarga.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ