SUKACITA KRISTIANI

19 May 2022

Kamis, 19 Mei 2022 

Kisah Para Rasul 15:7-21;

Mazmur 96:1-2a,2b-3,10;

Yohanes 15:9-11.

  

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku

telah mengasihi kamu;tinggallah di dalam kasih-Ku itu” 

Yohanes 15:19.

 

            TEMA KASIH (Yoh 15: 9) ini dikembangkan pada ayat 10, di mana kasih dikaitkan dengan perintah-perintah Ilahi. Di sini, kasih dan ketaatan (pada perintah) saling terkait. Kasih itu muncul dari sikap taat, sama seperti ketaatan itu hanya ada, karena kasih.

          Sabda Yesus: “Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku,” (Yoh 14:31), adalah dasar keterkaitan antara kasih dan ketaatan.  Yang menarik, dari kasih dan ketaatan tersebut muncul sukacita, bukan beban. Inilah pengalaman Yesus yang mau di-share-kan pada kita, yaitu bahwa bila “sukacita-Ku (karena mengasihi dan menaati perintah Bapa) ada di dalam kamu, (maka) sukacitamu menjadi penuh” (ay. 11).   Apa makna ini semua?

          Perikop itu  (Yoh 15:9-11) perlu ditempatkan dalam kerangka kesatuan manusia dengan Sang Pokok Anggur (ay.1-8), dan sekaligus dengan kriteria baru mengenai kasih yang didasarkan pada pengalaman dan kesatuan Yesus dengan Bapa-Nya (ay. 12-17). Ini artinya, kasih dan iman ketaatan itu adalah anugerah Ilahi. Usaha kita mengikuti Yesus tetap akan sia-sia, tanpa kesadaran bahwa semuanya adalah anugerah.

          Zaman ini, manusia mudah tergoda menjadi sombong dan menganggap keselamatan adalah karyanya sendiri. Inilah kesesatan Pelagianisme Abad V, di mana manusia merasa bisa mengatasi dosa-dosa pribadi dan memperoleh keselamatan, melalui berbagai cara alamiah, misalnya dengan matiraga, berpuasa, dan hidup yang keras.

          Saat ini, godaan ini bisa sangat riil, khususnya ketika sering dikhotbahkan bahwa pahala yang akan kita terima itu sesuai dengan perbuatan kita! Di hadapan Tuhan, tidak ada ‘give and take’! Yang ada hanyalah anugerah kerahiman-Nya. (Witdarmono)

 

DOA :  “Ya Bapa yang Mahapengasih, berikanlah kami rahmat kerendahan hati sehingga mampu untuk selalu memuji, menghormati, dan mengabdi kepada-Mu”.

PUJIAN:  “Kita percaya bahwa melalui anugerah Tuhan Yesus Kristus, kita akan diselamatkan sama seperti mereka juga.” – Kisah Para Rasul 15:11

JANJI : Pada 19 Maret 2018, Paus Fransiskus mengeluarkan Seruan Apostolik “Gaudete et Exultate” (Bersukacitalah dan Bergembiralah). Salah satu isinya (pada art. 57-62) adalah pembahasan mengenai munculnya ‘Pelagianisme Baru’, sebuah ajaran dari Pelagius (390-418), rahib dan teolog Inggris, yang menekankan, keselamatan itu merupakan hasil kehendak dan usaha sendiri. Menurut Paus Fransiskus, bentuk ‘pelagianisme baru’ itu terungkap pada sebuah kepuasan diri yang egois dan elitis tanpa kasih sejati. Orang punya obsesi berlebihan pada hukum, prestasi sosial dan politik, liturgi yang rinci, doktrin dan wibawa Gereja yang ketat, kecakapan manajerial, serta perhatian berlebihan terhadap program bantuan mandiri dan realisasi diri. Rancangan pun lebih dibesar-besarkan, sehingga tidak ada tempat bagi rahmat untuk berkarya. Orang tidak lagi membiarkan diri untuk dibimbing oleh Roh Kudus dalam jalan kasih. “St. Thomas Aquinas mengingatkan kita, aturan yang ditambahkan kepada Injil oleh Gereja harus diterapkan secara tidak berlebihan, “supaya jangan memberatkan hidup umat beriman”, sebab dengan begitu agama kita akan menjadi bentuk perbudakan”, demikian tulis Paus Fransiskus. 

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.