SUMBANGAN PEMIKIRAN LUAR BIASA DARI ST. THOMAS AQUINO, MENEGUHKAN IMAN
28 January 2023
Sabtu, 28 Januari 2023
St. Thomas Aquino
Ibr 11:1-2,8-19
Luk 1:69-75
Mrk 4:35-41
Guru, engkau tidak peduli kalau kita binasa?. Yesus pun bangun dan menghentikan angin dan berkata kepada danau itu: Diam! Tenanglah! Lalu danau itu menjadi teduh sekali
Mrk 4: 39
Biasanya orang suka dengan ramalan. Banyak kaum muda suka sekali membaca ramalan horoscop minggu ini. Tidak sedikit orang yang suka datang ke “Orang pintar” alias paranormal untuk menanyakan peruntungan atau nasibnya. Para komentator olahraga suka meramal hasil pertandingan olahraga, setelah menganalisis kekuatan para pemain. Keingintahuan pada apa yang akan terjadi memang sudah menjadi kerinduan dasar manusia.
Pada bacaan pertama hari ini, kita dapat mengetahui bahwa iman menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman bukanlah suatu pengetahuan apalagi ramalan. Iman adalah suatu keyakinan yang jaminannya hanya ada pada Allah. Cotoh terbaik adalah Abraham. Saat Abraham berangkat memenuhi panggilan Allah, ia tidak mempunyai bayangan apa-apa mengenai apa yang dijanjikan Tuhan. Ia hanya percaya bahwa karena Tuhan sendiri yang berjanji maka itu sudah cukup. Sebab Tuhan pantas dipercaya. Tuhan sendiri menjadi jaminannya. Sayangnya, iman sebesar itu tidak dimiliki para murid saat berlayar bersama Yesus. Saat terjadi angin ribut, mereka bingung dan gelisah luar biasa, meski Yesus hadir dan tertidur di antara mereka. Mereka tidak yakin bahwa sebenarnya sudah cukup bagi mereka untuk tenang karena Tuhan bersama mereka. Juga kalau Tuhan kelihatan diam atau bahkan tertidur.
Kita begitu mudah takut. Kita mudah cemas akan macam-macam hal di masa mendatang. Kita khawatir akan berbagai soal. Namun bukankah ini tanda bahwa kita kurang beriman? Harus diakui bahwa sering kali Tuhan terlihat diam. Tetapi kita mesti ingat, bukankah sikap Tuhan yang demikian justru menguji kedalaman iman kita? (FXS)
DOA Semoga kami menyadari bahwa Tuhan selalu menyertai kita di manapun kita berada.
JANJI “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya ?(Mrk 4 : 40)
PUJIAN Thomas Aquinas (1487-1555), Pangeran Landof Aquinas menyerahkan anaknya yaitu Thomas Aquinas pada Biarawan Benidictin di Monte Casino (Italia). Harapannya ialah agar suatu ketika anaknya menjadi Abas Biara yang kaya itu. Tetapi tak kalah kaisar menyerang paus dan biara-biara, Thomas pindah ke perguruan tinggi Napoli. Dalam kampus ini para dominikan mempunyai biara. Dan pada usia 19 tahun Thomas masuk ordo dominikan. Tetapi seluruh keluarganya tidak setuju maka ia di suruh pindah ke Paris. Namun, atas perintah ibunya yang kecewa karena tidak sempat melihat anaknya, Thomas di kejar dan didik oleh kedua kakaknya. Thomas di kurung dalam sebuah benteng dan tidak boleh pergi sampai 2 tahun lamanya. Tetapi Thomas tetap pada pendiriannya. Untuk menjatuhkan Imannya kedua kakaknya memasukkan seorang wanita yang cantik dan jahat ke kamarnya. Namun dengan bara yang menyala di ambil dari tungku Thomas mengusir perempuan itu. Kemudian dia menggores tanda salib di dinding dan berlutut, berdoa khusuk. Dalam mimpi ia merasa seorang malaikat mengikatkan tali pada pinggangnya sebagai tanda karunia kemurnian abadi dari Tuhan, ikatan itu begitu kencang sehingga Thomas menjerit kesakitan, ketakutan yang mengakibatkan penjaganya terbangun. Ia tidak pernah mencerita karunia ini kepada siapapun, terkecuali kepada bapa pengakuannya menjelang detik-detik kematiannya. Akhirnya ia melarikan diri, mula-mula ke Koln, kemudian ia menuju Paris untuk belajar pada Albertus Agung belajar. Di kota itu ia mengajar Filsafat dan Tiologi sebagian besar ia mengajar di kota itu. Waktunya juga digunakan untuk berdoa dan menulis, ada yang mengatakan, bahwa kepandaian Thomas yang mengagumkan itu bukan karena kejeniusannya, melainkan karena ketekunannya berdoa. Gereja mewarisi karya-karya Thomas sebagai harta karun Gereja yang sangat berharga, ia disebut Doctor Ancilikus (Doctor malaikat) karena makna sebuah penanya lebih bersifat Ilahi dari pada duniawi. Ia sangat menghormati sakramen Mahakudus yang terjermin dalam banyak doa dan nyanyian yang di karangnya, seperti “Adorote Ferbum Su Vernum(PS 502, Pange lingua Gloriosi, Tantum Ergo)” secara ajaib Tuhan pernah menyapa Thomas dari salib :” Thomas, sungguh bagus engkau menulis tentang Aku. Hadian apa yang kamu inginkan?” Thomas menjawab: Jangan memberikan apa-apa, kecuali dirimu, Oh Tuhan”. Dalam perjalanan menuju Konsilyon ia berkata, bahwa buku-buku tebal yang di tulisnya dan yang digunakan sebagai mata pelajaran universitas-universitas bagaikan rumput kering. Sepanjang jalan ia berdoa terus, saking asyiknya, ia tidak melihat pohon melintang di tengah jalan sehingga ia menatapnya dan jatuh, sehingga ia tidak dapat menghadiri Konsili itu. Sebelum meninggal ia masih sempat mentafsirkan kitab suci kepada para biaran yang merawatnya.
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ