“SURSUM CORDA”
30 December 2020
Rabu, 30 Desember 2020
1 Yohanes 2: 12-17
Mazmur 96:1-6
Lukas 2: 36-40
“Janganlah kamu mengasihi dunia” --- 1 Yohanes 2:15
TULISAN YOHANES, baik Injil, ketiga Suratnya dan Kitab Wahyu, bacaan yang cukup sukar. Injil Synoptici -Matius, Markus dan Lukas – dalam mewartakan Yesus dan Kerajaan-Nya-, bersifat ‘horizontal’. Sedang tulisan Yohanes itu ‘vertical’ – melihat dari atas. Maka dalam Prefasi Misa, imam mengajak umat untuk ‘mengarahkan hati’ ke atas “Sursum Corda”– kepada Tuhan.
Santu Yohanes mengajak kita untuk ‘tidak mengasihi dunia’. Kita perlu hati-hati memahami bahasa Yohanes, khususnya tentang ‘dunia’, yang harus kita jauhi. Yohanes dalam hal ini tidak bicara tentang dunia fisik yang kasat mata, karena dari ciptaan Allah adalah baik (Kej 1:31). Juga bukan apa saja yang ada di dan dalam masyarakat itu jelek dan dosa. Yang Yohanes maksudkan adalah ‘dunia’ yang berarti masyarakat dengan budayanya yang dikendalikan oleh budi dan hati yang terfokus pada dunia yang terbatas dan sementara yang bersebrangan dengan hati dan budi yang mengarah pada Allah. Bagi Yohanes ‘dunia’ adalah cara pandang yang mengabaikan Allah, menempatkan diri pribadi sebagai pusat.
Yohanes mengerjakan tulisannya sewaktu cara hidup yang sangat duniawi itu begitu menariknya untuk sementara waktu, tetapi dalam kenyataannya cara hidup seperti itu pada dasarnya tak-memuaskan, mubasir dan segera berlalu. Inilah yang bertabrakan dengan cara pandang orang yang berfokus pada Allah dan mencintai-Nya.
Orang-orang yang telah mengalami pengampunan atas dosa-dosa mereka, hati mereka terarah ke atas untuk memahami dan mencecap realitas surgawi – memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus sendiri. Orang-orang itu melihat jauh ke depan, sangat visioner dan telah belajar melihat hidup mereka dan dunia di sekitarnya dari sudut pandang dari ‘atas’. Dengan penuh sukacita dan jelas dalam arah mereka mempersembahkan hidup mereka demi menegakkan dan memajukan Kerajaan Allah di dunia justru dalam kesibukan harian.
Kekristenan kita bukanlah bertujuan menjadikan kita pemimpi-pemimpi tentang yang remeh-remeh. Kita berpikir dan bertindak yang riil – nyata. Memang kita melihat dan mengalami adanya ‘kegelapan’, tetapi dengan penuh iman akan Yesus kita mampu mengalahkan kegelapan itu.
Itulah cara pandang dan cara hidup bagi semua saja yang mau mengikuti Yesus. Tertarikkah kita ? Atau kita masih terperangkap dalam hal-hal yang duniawi? Karena Yesus berada dalam diri kita, maka kita bisa! Ini tidak tergantung pada kepribadian kita, tetapi pada kuasa Roh kudus yang mentransformasi kita.
DOA: Ya Yesus, kuakui aku masih jauh dari sempurna. Tetapi aku ingin hidup seperti Santo Yohanes penginjil utarakan.
JANJI: “Anak kitu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” --- Lukas 2:40
PUJIAN: Santu Yohanes, penginjil, sama sekali tidak menyampaikan Kabar Gembira dalam bentuk ‘perumpamaan’, tetapi menyampai kisah nyata, yakni mukjizat penyembuhan dan peristiwa alami, sebanyak delapan kali.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ