TABUT PERJANJIAN TUHAN

07 February 2022

Senin, 7 Februari 2022

Santa Koleta

1 Raja-Raja 8:1-7.9-13

Mazmur 132:6-7.8-10

Markus 6:53-56


“Imam-imam membawa tabut perjanjian Tuhan itu ke tempatnya, yakni di ruang belakang rumah itu, di tempat mahakudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub… Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan Tuhan dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir.” --- 1 Raja-Raja 8:6,9


TABUT PERJANJIAN merepresentasikan Kehadiran Allah sendiri yang ada di tengah-tengah umat Israel dalam perjalanan ke Tanah Terjanji. Dan setelah Umat Israel menetap di tempat mereka masing-masing dalam tradisi Perjanjian Lama, imam-imam mempunyai tugas mengangkat dan mengangkut Tabut Perjanjian Tuhan ke tempat-tempat yang dikhususkan dalam upacara keagamaan mereka. Bacaan pertama menceritakan dalam konteks Pentahbisan Bait Suci, ketika Tabut Perjanjian dipindahkan dan kemuliaan TUHAN memenuhi Bait Suci.

  1. Tabut Perjanjian Tuhan

         Tabut Perjanjian menjadi satu-satunya perabot di Tempat Yang Mahakudus. Tabut itu merupakan sebuah kotak sepanjang 114 cm, lebar 68,5 cm dan setinggi 68,5 cm, terbuat dari kayu penaga dan dilapisi dalam dan luar dengan emas murni. Tabut itu mula-mula berisi tiga benda pengingat bahwa Allah adalah Raja atas Israel:

  Pertama, Loh-loh batu yang berukir Kesepuluh Hukum, 

  Kedua, Sebuah buli-buli emas penuh dengan manna, 

  Ketiga, Tongkat Harun yang bertunas secara adikodrati. 

Akan tetapi, pada zaman Salomo Tabut Perjanjian hanya berisi dua loh batu (1 Raj 8:9 bdgk 2Taw 5:10). 

Tabut itu ditutup dengan "tutup pendamaian," tempat darah korban dipercikkan setiap tahun sekali oleh imam besar pada Hari Raya Pendamaian. Dua kerub berukir emas , ditempatkan dengan muka saling menghadap dengan sayap terbentang ke depan, sambil menudungi tutup tabut dalam bentuk lingkungan. Pada tengah tutup pendamaian, kehadiran Allah dilambangkan oleh awan terang adikodrati yang sangat cemerlang disebut “Shekinah”.

  1. Kemah Pertemuan

Kemah Pertemuan merupakan sebuah bangunan berbentuk tenda yang merupakan tempat penyembahan orang Israel yang mudah dibawa selama pengembaraan mereka di padang gurun. Kemah yang didirikan orang Israel atas perintah Allah sementara berkemah di Gunung Sinai (Kel 25:1-27). Setelah memasuki tanah perjanjian di Kanaan, mereka tetap memakai tempat kudus yang dapat dipindah-pindah itu. Daud mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan sebuah rumah ibadah yang permanen bagi Tuhan, tetapi Tuhan menyatakan bukan Daud melainkan anak kandungnya yang akan mendirikan rumah bagi-Nya (2Sam 7:1-13)

Sepanjang awal masa pemerintahannya, Salomo menugaskan ribuan orang untuk ikut ambil bagian di dalam pembangunan Bait Suci ini (1Raj 5:13-18). Pada tahun keempat pemerintahannya, dasar sudah diletakkan; tujuh tahun kemudian seluruh bangunan itu selesai (1Raj 6:37- 38). Penyembahan kepada Tuhan, khususnya dengan korban-korban yang dipersembahkan kepada-Nya, kini memiliki tempat yang tetap di kota Yerusalem

  1. Kehadiran Tuhan

Kemuliaan Tuhan memenuhi bait itu setelah Tabut Perjanjian dibawa ke dalamnya (1Raj 8:5-11). Di mana Firman Allah itu hidup dan ditaati, di situlah kemuliaan Tuhan tinggal. Kenyataan bahwa Allah tinggal di dalam Bait Suci tidaklah berarti bahwa Dia tidak tinggal di lain tempat, karena Allah ada di mana-mana (ayat 1Raj 8:27). Yang dimaksudkan adalah bahwa Kehadiran dan Kuasa Allah akan dinyatakan secara khusus di dalam Bait Suci. 

Bagi kita, umat Perjanjian Baru, dengan pengertian yang sama,   kehadiran Kristus bersama umat-Nya dinyatakan secara khusus ketika mereka berkumpul dalam Nama-Nya (Mat 18:20). Yesus sebagai Allah yang hidup di tengah dan bersama umat-Nya, maka ke mana pun Ia pergi, ke situ pulalah orang berbondong-bondong datang dan memohonkan mukjizat keselamatan. Tetapi secara khusus, kehadiran Yesus di bumi.

Gereja adalah Bait Suci Allah, Sakramen Maha Kudus berdiam di dalam Tabernakel. Yesus Kristus hadir dalam Roti yang telah diberkati dalam Perayaan Ekaristi. Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus yang bersemayam di dalam kita adalah Roh Allah sendiri. Sang  Emmanuel – Allah yang senantiasa menyertai kita. Maka kita harus hidup dalam ketaatan kepada Sabda Tuhan supaya kemuliaan Tuhan tetap tinggal dalam diri kita. Dan dalam Ekaristi Kudus, kita menghadap Meja Sabda dan Meja Perjamuan. Kita dikuatkan oleh Sabda-Nya dan Tubuh-Nya yang kudus. (Hendro S.)  

 

DOA: Yesus, kami merindukan kehadiran-Mu senantiasa. Jadikanlah kami senantiasa Bait-Mu yang kudus karena Santapan suci. Dan jadikan daku hidup dalam ketaatan kepada Sabda-Mu agar diri kami senantiasa memancarkan kemuliaan-Mu.

JANJI: “Memang kita telah mendengar itu di Efrata, telah mendapatnya di padang Yaar. “Mari kita pergi ke tempat kediaman-Nya, dan sujud menyembah pada tumpuan kaki-Nya.”-Mazmur 132:6-7

PUJIAN: Hari ini kita peringati - meski tidak wajib -, Santa Koleta, 1381-1447. Ia  telah memilih Kristus sebagai mempelainya dan memilih hidup membiara, masuk menjadi anggota Ordo Ketiga Santo Fransiskus. Empat tahun kemudian atas petunjuk Tuhan, ia diminta untuk memulihkan kembali aturan-aturan Biara Suster-Suster Klaris. Walaupun menghadapi banyak rintangan, ia berhasil menata kembali corak hidup membiara dengan disiplin yang baik di tujuh belas biara terutama di Belgia dan Perancis.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.