TAJAMNYA MATA ROHANI
26 July 2018
Kamis, 26 Juli 2018
St. Yoakim & Ana, Ortu SP Maria
Sirakh 44:1,10-15
Mazmur 132:11,13-14,17-18
Matius 13:16-17
“Berbahagialah matamu karena melihat, dan telingamu karena mendengar” --- Matius 13:16
INJIL HARI ini mengutarakan suatu penjelasan, bagaimana kita secara inderawi tajam secara rohani : dengan terus membuka hati kita kepada-Nya. Dalam ayat-ayat sebelumnya para murid bertanya, mengapa Yesus mengajar dalam bentuk ‘perumpamaan’. Hal ini menuntun ke arah pembincaraan, siapa-siapa yang dapat ‘melihat’ dan ‘mendengar’ Yesus dan mereka yang tidak dapat!
Tentu di sini Yesus sama sekali bukan berbicara secara ‘harafiah’ dalam melihat dan mendengar, tetapi dalam menangkap dan memahami dengan hati. Ia berbicara tentang kemampuan kita untuk ‘’merasakan’ kehadiran-Nya dan kemampuan untuk memilah dan menegaskan menangkap ‘suara-Nya’. Yesus ingin menegaskan kepada para pendengar-Nya, kalau mereka tidak berusaha mengerti dan memahaminya, akan lebih berat dan sukar mereka mengerti akan ‘kasih-Nya’ (Mat 13:15).
Ya kita telah membuka hati kita kepada-Nya, tetapi lebih dari itu, kita selalu membukanya dan selalu juga peka kepada-Nya seterusnya. Ini mencakup praktek doa, membaca Alkitab dan merayakan sakramen-sakramen. Juga sikap terbuka dikoreksi bila salah. Hati yang terbuka adalah hati yang rendah hati.
Kita ingat akan kesalahan yang banyak yang Petrus lakukan : waktu ia mencoba berjalan di atas air, berencana membangun tiga kemah saat menyaksikan kemuliaan Yesus, ia mencoba agar Yesus tak berfokus pada Salib, dan ia tiga kali berkhianat. Tetapi Petrus tak pernah membiarkan salah langkahnya itu menjauhkan dirinya dari Yesus. Ia tetap belajar dan ia tetap mengikuti-Nya dan mendengarkan-Nya. Begitulah Petrus lalu berkembang menjadi semakin peka ‘mata dan telinganya’, dan akhirnya bersedia menanggapi panggilannya menjadi “Batu Karang Gereja.”
Mari kita ikut jejak Petrus, dan terus berusaha untuk berkenan kepada Tuhan. Percayalah kalau-kalau kita salah melangkah, Yesus tetap tersenyum pada kita. Yesus tetap bersedia membentuk pribadi kita. Yesus tetap berkenan memberkati ‘mata’, ‘telinga’ dan ‘hati’ kita.
Doa: Yesus, bangkitkan semua saraf inderaku, bukan hanya mata dan telingaku, tetapi lebih-lebih hatiku.
Janji: “Lanjutkan kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati” --- Mazmur 36:11
Pujian: Sesaat sebelum Injil dibacakan dengan lantang oleh imam kepada umat, imam berseru “Inilah Injil Yesus Kristus menurut ...” Dan umat menjawab “Dimuliakanlah Tuhan”, sambil membuat tanda salib kecil pada dahi, mulut dan hati. Ini dimaksudkan agar Tuhan berkenan memberkati budi pikiran kita, mulut dan hati kita, agar menangkap dan memahami Sabda Allah.
Penanggung jawab RH: Rm Subroto Widjojo, SJ