TAK PERNAH MENINGGALKAN KITA
29 January 2022
Sabtu, 29 Januari 2022
2 Samuel 12: 1-7a, 10-17;
Mazmur 61: 12-17;
Markus 4: 35-41
“Guru, Engkau tidak peduli, kalau kita binasa?”
– Markus 4:37
ADA CERITA berjudul “Jejak Kaki di Pasir”. Dalam cerita itu, si penulis memimpikan diri berjalan-jalan dengan Tuhan di pantai berpasir. Dalam mimpi dia melihat dua pasang jejak kaki. Di ujung jalan bersama, ia hanya melihat sepasang jejak kaki saja di saat jalan hidupnya banyak cobaan. Ia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa hanya hanya sepasang jejak kaki saja , saat saya sangat membutuhkan bantuan-Mu?”, si penulis menegaskan, “tidakkah Engkau di sana itu, untuk saya!?” Dan Tuhan-pun menjawab, ”Saat engkau melihat hanya ada sepasang jejak kaki itu, saat itu aku menggendongmu!”
Pesan cerita itu, ialah tidak hanya kerinduan kita akan Tuhan, tetapi juga tentang betapa sukarnya untuk percaya bahwa Tuhan benar-benar nyata selalu bersama kita. Dalam Injil hari ini, para murid Yesus juga bertanya yang sama kepada-Nya: “Di mana Engkau Tuhan, saat kami ini benar-benar membutuhkan kehadiran-Mu ? Tidakkah Engkau peduli dengan kami ?”
Tentu saja pertanyaan yang menyalahkan Yesus itu, menyinggung Hati Yesus – menganggap Yesus sebagai Guru tidak peduli kepada mereka, murid-murid-Nya ! Yesus dianggap hanya menunggu saja sampai mereka berseru meminta tolong, sampai merasa sadar akan keterbatasan mereka dan baru mereka mengundang-Nya untuk bertindak.
Bisa saja, kita ini seperti para murid merasa diminta menunggu saja begitu lama akan datangnya jawaban akan doa-doa kita, seakan-akan seperti menunggu Yesus baru tidur di buritan perahu, seakan Dia ‘tuli’ akan seruan kita. Mungkin juga kita lalu seperti akan menegur-Nya karena begitu lamanya membiarkan kita dalam ketegangan !
Entah kita berdoa untuk diri kita atau untuk orang-orang lain, dalam keadaan itu, kita tidak boleh putus asa. Kita tetap dan terus berdoa. Yesus tak pernah membiarkan kita berada terus dalam badai dan angin topan. Yesus mempunyai waktu-Nya sendiri, kebijakan dan rencana-Nya sendiri.
Yesus ada di perahu bersama kita, meski Ia tidak nampak, kehadiran-Nya tak terasa, tetapi tak akan Dia meninggalkan kita, dalam keadaan apapun. (S.Widjojo)
DOA : Ya Yesus, tanamkanlah dalam hatiku kesadaran , bahwa Engkau selalu ada dalam ‘perahu kehidupanku’ dan menjagaku
JANJI : “ ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali” – Markus 4: 48
PUJIAN: Seorang narapidana mati ditahan di Nusakambangan menunggu eksekusinya. Malam eksekusi, dia menyerah total kepada Tuhan dan berdoa. Ia menunggu pintu tahanan diketuk dan dibawa ke tempat eksekusi. Lama menunggu hingga tidur sampai pagi. Sewaktu terdengar pintu diketuk, ia terbangun, ia mengira mau dibawa keluar dan dieksekusi, tetapi diberi kabar ia bebas.
Mengapa ? Jelang jam saatnya ia harus di-eksekusi terjadi hujan badai memporak perandakan tempat eksekusi. Hujan tak reda sampai pagi. Ia batal dieksekusi.
penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ