TAK TAKUT JADI SAKSI KRISTUS
24 April 2020
Jumat, 24 April 2020
Kisah Para Rasul 5:34-52
Mazmur 27:1, 413-14
Yohanes 6:1-15
“Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” – Kisah Para Rasul 5:41
SUKA DUKA Umat Gereja Perdana nampak dalam awal Kisah para Rasul. Menderita atas nama Yesus itu, seperti dialami umat Gereja Perdana, bisa terjadi pada kita juga sekarang. Tetapi menderita atas nama Yesus mereka terima dengan ‘gembira’. Itu umat Gereja Perdana. Mereka (kedua rasul) dijebloskan ke dalam penjara dilepas oleh malaikat. Demikian keluar mereka langsung ke Bait Suci dan berkotbah kembali. Para anggota Mahkamah Agama frustrasi, tak tahu apa yang akan dilakukan lagi. Cambuk dan penjara tidak membuat para rasul jera, semangat tetap membara.
Dan ini yang patut kita catat, ‘para rasul bersuka dan bergembira boleh meneladan ‘Tuan-nya’, dan mereka meneruskan pewartaan – malahan mewartakan Injil tetap di Bait Suci-.’ Dari mana suka cita dan kegembiraan itu datang? Bagaimana mereka memperolehnya. Langkah-langkah ini bisa membantu kita:
- Kita perlu mencoba berani sebagaimana para rasul berani; bila kita telah berhasil dalam ulah-keberanian, Roh Kudus akan memberi energi dan kegairahan baru. Ini adalah awal sukacita.
- Perutusan itu harus tetap hadir dalam pikiran kita. Juga sewaktu kita bersih-bersih lantai dan kamar, cuci piring dan pakaian, dengan menyadari bahwa kita di sini guna memberi kesaksian akan Yesus. Semakin hal ini menjadi cara pandang kita, kita akan jauh lebih mudah mengatasi hambatan dan rintangannya.
- Kita jaga jangan sampai kerja-keras kita membuat diri kita terseok. Terus maju, jalan terus. Ingat, Yesus ada dan hadir dalam diri kita, apapun yang terjadi. Juga meski dalam menghayati perutusan itu menyebabkan penderitaan, Yesus tetap ada dan memberi kita dan memberi yang kita butuhkan, dan kita melangkah maju terus.
Dalam meruskan langkah, mungkin kita jatuh bangun, tetapi kita tetap bergembira sampai mencapai tujuan.
DOA : Tuhan, bantulah aku menemukan langkah-langkah menuju sukacita sejati!
JANJI : “Mereka melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan yang diadajan-Nya terhadap orang-orang sakit” - Yohanes 6: 2
PUJIAN : Larta, satu-satunya anak dari pasangan yang nikah di gereja beda agama. Pihak putri yang katolik terikat janji berusaha mendidik dan membaptis anaknya secara katolik. Sang ayah yang bukan-katolik bersikekeh agar Larta, anak laki-lakinya ikut imannya. Si anak terombang-ambing, ibunya stress, tetapi itu ia terima dengan tidak sakit hati, sebab ia percaya bahwa “Tuhan pasti buka jalan”. Sewaktu dewasa Larta nikah dengan gadis katolik, nikah campur beda agama, seperti orangtuanya. Ia hormati ayahnya. Tetapi sewaktu ia sudah berdiri sendiri sebagai keluarga, Larta putuskan masuk katolik, dan dibaptis bersama anak pertamanya.
Penanggungjawab Renungan: ?Rm. Subroto Widjojo, SJ