TAK USAH TAKUT, MASA DEPAN ITU ANUGERAH

16 December 2020

Rabu, 16 Desember 2020 

Yesaya 45:6b-8.18.21b-25

Mazmur 85:9ab-10.11-12.13-14

Lukas 7:19-23

 

“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman”. --- Mazmur 85:10.

 

ADA SUASANA kekhawatiran terhadap masa depan, saat para murid Yohanes mendatangi Yesus. Dengan bertanya, “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan seseorang lain?” (Luk 7:20) Mereka mengkhawatirkan akan terjadinya “kedatangan hari Tuhan, yang besar dan dahsyat” seperti ramalan nabi Maleakhi (lih. Mal 4:5).

Setiap orang memang akan selalu menanyakan masa depan mereka.

Itu naluri kehidupan biologis dan batiniah manusia. Namun, Yesus menunjukkan bahwa masa depan bukan tergantung pada diri kita. Masa depan itu sebuah anugerah. “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberi kabar baik” (Luk. 7: 22), semuanya merupakan anugerah dari Allah untuk masa depan kita.

Namun, tidak semua mau menerima masa depan tersebut begitu saja. Sering, kebahagiaan orang lain dianggap sebagai pengurangan atas kebahagiaan diri saya. Maka, Yesus menambahkan “berbahagialah yang tidak membuat Aku menjadi batu sandungannya =’kecewa dan menolak’” (ay. 23).

Di sinilah, Yesus minta, agar bila kita menerima anugerah masa depan dari Dia, kita juga harus berani memakai Dia menjadi ukuran hidup, khususnya saat berhadapan dengan Allah dan sesama. Yesus telah memberikan Diri-Nya sebagai anugerah bagi kita. Itulah masa depan kita. Maka, untuk memeliharanya, hanya satu yang diperlukan, yaitu bersedia memberi kasih dengan sepenuh hati.

St. Bunda Teresa dari Kalkuta (1910-1997), mengatakan: “Ukurannya, bukan berapa banyak yang kita berikan, tetapi berapa kualitas nilai kasih, yang kita letakkan dalam pemberian itu. Berikanlah pada orang lain, sampai itu terasa ‘sakit’ pada dirimu”.

Untuk dapat melakukan hal ini, diperlukan iman yang kokoh, agar tetap mampu berpaling kepada Allah dalam situasi apapun, seperti diungkapkan oleh Yes. 45:22: “Berpalinglah kepada-Ku, dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!  Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain”. (WIT)

 

DOA: “Ya Bapa yang Maharahim, berikanlah kami kemampuan untuk memberikan kasih kepada sesama, tanpa membuat kami menjadi sombong. Biarlah hanya kemuliaan-Mu saja yang tampak menjadi cemerlang”.

JANJI : “Tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” --- Yesaya 45:6b-7.

PUJIAN:  Pada 16 Nopember 1965, tiga pekan sebelum penutupan Konsili Vatikan II, 42 orang uskup di bawah pimpinan Mgr. Dom Hélder P. Câmara (1909-1999), mempersembahkan Misa di Katakombe Domitilla, di luar Kota Roma. (Pada zaman penganiayaan Romawi Abad I-III, katakombe menjadi tempat orang Kristen berkumpul dan beribadat secara rahasia). Para uskup itu menandatangani Pakta Katakombe. Mereka berjanji untuk hidup sederhana, melayani kaum miskin, terbuka terhadap siapapun tanpa membedakan kepercayaan atau agama mereka, serta menghindari memakai cincin uskup yang fancy dan gemerlap. Praktik dari Pakta tersebut ternyata ikut mengubah wajah Gereja.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.