TAKUTLAH KEPADA ALLAH, BUKAN KEPADA MANUSIA
13 July 2024
Sabtu, 13 Juli 2024
Yesaya 6:1-8
Mazmur 93:1ab.1c-2.5
Matius 10:24-33
"Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka." --- Matius 10:28
AYAT INI mengajarkan kepada kita tentang perbedaan antara ketakutan duniawi dan ketakutan rohani. Yesus menasihati murid-murid-Nya untuk tidak takut kepada manusia yang hanya bisa membunuh tubuh, tetapi tidak bisa menyentuh jiwa. Sebaliknya, Yesus menekankan bahwa kita harus takut kepada Allah, yang memiliki kuasa atas jiwa dan tubuh kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita dihadapkan pada berbagai situasi yang menimbulkan rasa takut. Ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan kehilangan, atau bahkan ketakutan akan penolakan. Ketakutan-ketakutan ini, meskipun nyata, hanya berkaitan dengan aspek-aspek duniawi dari hidup kita. Mereka tidak bisa menyentuh atau mengubah esensi spiritual kita.
Namun, ketakutan yang sejati dan kudus adalah ketakutan akan Allah, yang seharusnya mengarahkan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Ketakutan ini bukanlah ketakutan yang mencekam atau melumpuhkan, melainkan ketakutan yang penuh hormat dan kasih, yang mendorong kita untuk berusaha hidup dalam kebenaran dan kesetiaan kepada-Nya.
Kita juga diajak untuk memeriksa kembali fokus ketakutan kita. Apakah kita lebih takut pada pandangan manusia atau pada penilaian Allah? Apakah kita hidup untuk menyenangkan manusia atau menyenangkan Allah? (Linda H)
DOA: ”Allah Bapa yang Mahakuasa, sesuai dengan firman-Mu hari ini, maka kami tidak boleh takut kepada mereka yang hanya bisa membunuh tubuh, tetapi tidak bisa menyentuh jiwa. Ajarlah kami agar hanya takut akan Engkau, yang memiliki kuasa atas hidup kami.
JANJI: ”Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa.” - Mazmur 93:5
PUJIAN: Henrikus lahir di Bavaria pada tanggal 6 Mei 972. Pangeran Bavaria ini dijuluki 'Heindrich der Zanker' yang berarti Henrikus sang Jagoan karena tabiatnya yang suka bertarung dan tiada henti-hentinya berperang. Tiada waktu baginya untuk mendidik puteranya yang sama namanya, yaitu Heindrich. Meskipun demikian ia tidak menghendaki pendidikan anaknya terlantar sama sekali. Anaknya dipercayakan pada para biarawan untuk dididik. Suatu ketika dalam penglihatan yang ajaib, Henrikus II ditemui oleh gurunya, St. Wolfgang yang menunjukkan kepadanya kata 'sesudah enam'. Penglihatan ini membuatnya terus bersiaga, karena ia mengira bahwa setelah enam tahun ia bakal mati. Selama kurun waktu enam tahun itu, ia terus berjaga-jaga dan berdoa. Pada akhir tahun keenam, ia baru mengerti arti penglihatannya itu: ia dipilih menjadi raja Jerman, menggantikan ayahnya. Karena telah terbiasa dengan cara hidup yang selalu siaga penuh dan selalu dekat dengan Tuhan, maka ketika ia naik takhta ia bertekad: memerintah demi kemuliaan nama Tuhan. Sasaran utama pemerintahannya ialah ketertiban dalam seluruh kerajaan dan pembaharuan Gereja. Sepeninggal pamannya Otto III pada tahun 1002, ia dipilih menjadi kaisar. Namun ia lebih dulu harus berperang selama 12 tahun sebelum menduduki takhta kekaisaran. Ia mengusir paus tandingan Gregorius dan mengembalikan Paus Benediktus VIII ke atas takhta kepausan. Akhirnya pada tahun 1014 ia dinobatkan menjadi kaisar di Gereja St. Petrus di Roma. Ia mendirikan Takhta Bambergi. Ia menyumbangkan banyak harta kekaisarannya untuk mendirikan gereja-gereja dan biara. Henrikus sangat disegani dan dianggap sebagai kaisar yang adil dan murah hati. Ia meninggal di Grona, dekat Gottingen pada tanggal 13 Juni 1024. Jenazahnya dikuburkan di dalam Katedral Bamberg yang merupakan bangunan paling indah yang ia dirikan, berdampingan dengan St. Kunigunde, istrinya. Henrikus dinyatakan Gereja sebagai Santo pada tahun 1146 oleh Paus Euginius III (1145 - 1153).
Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)