TAMAK DAN “AL-MILKIYAH”

19 October 2020

Senin, 19 Oktober 2020

St. Paulus dari Salib, St. Yohanes de Brebeuf dan St. Isaac Jogues

Efesus 2: 1-10

Mazmur 100: 2.3.4.5

Lukas 12: 13-21.

 

"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”---Lukas 12:15

 

YESUS MENOLAK menjadi hakim dalam pertikaian soal warisan. Dia tidak menghendaki ketamakan sebagai ukuran hidup, sebab dalam ketamakan itu, selalu ada unsur ‘keinginan untuk terus memperoleh dan memiliki jumlah yang lebih besar’ ( 2 Ptr 2:14).

Pada awalnya, konsep warisan itu muncul dari keinginan untuk memberi keadilan. Tetapi, ketika ada yang menggeser keadilan, dan kemudian lebih mengutamakan ‘kepemilikan’, maka timbullah pertikaian.

Ungkapan ‘milik’ itu berasal dari kata Arab, ‘al-milkiyah’. Dalam ungkapan tersebut, kandungan unsur kekuasaan sangat kuat. ‘Al-milkiyah’ berasal dari kata kerja ‘malaka’, artinya: ‘menguasai sesuatu secara istimewa’. Maka, ketika orang mempunyai ‘al-milkiyah’, ia akan cenderung menolak ‘sharing’. Ada egoisme kekuasaan, yang sangat kuat—karena di dalamnya ada keistimewaan--, dalam makna ‘al-milkiyah’.

Lewat pewartaan-Nya, Yesus mengubah makna kepemilikan secara radikal. Pada perumpamaan tentang seorang yang kekayaannya berlimpah-limpah (Luk 12:16-21). Di situ Yesus menunjukkan bahwa kekuasaan, yang terkandung dalam ‘al-milkiyah’, sepenuhnya hanya dimiliki oleh Allah. Orang kaya itu disalahkan karena ia menganggap, semua ini sepenuhnya milikku, bukan milik orang lain! Anggapan ini membuat si kaya itu tidak lagi mampu punya kepedulian pada orang lain, sama seperti si kaya dalam ‘perumpamaan Lasarus’ (Luk 16:19-31).

Kematian dan neraka adalah akhir dari watak semacam itu. Dalam soal akhir hidup ini, si kaya sama sekali tidak memiliki kekuasaan, meski sebelumnya ia punya kuasa besar terhadap miliknya.

Yesus menghendaki kita mengubah orientasi, yaitu menjadi “kaya di hadapan Allah” (ay. 21). Artinya, selalu mencari Kerajaan Allah lebih dulu, di mana kasih menjadi yang paling utama. Kasih itu selalu mendambakan kesatuan. Ia tidak ditentukan oleh kekuasaan kita, tetapi oleh rahmat kerahiman Allah. Sebaliknya, ketamakan dan fanatisme akan tetap selalu mempertahankan ‘al-milkiyah’, dan karena itu, mudah sekali memunculkan perpecahan, karena di dalamnya, selalu ada kuasa pribadi. (WIT)

 

DOA: “Ya Allah yang Mahabaik, semua kekayaan maupun kesejahteraan datang dari-Mu. Jadikanlah kami hamba-Mu, yang selalu siap sedia, tidak lekat dengan apapun, saat kami dipanggil. Hanya Engkaulah, Tuhan, andalan kami”.

JANJI: “Bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” – Mazmur 100:4b - 5

PUJIAN: St. Paulus dari Salib (1694-1775) mendengarkan ayat yang berbunyi “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku"(Luk 9:23). Teks itu begitu mengesan, sehingga ia membangun sebuah spiritualitas, yang didasarkan pada Salib dan Peristiwa Sengsara Yesus, sebagai semangat hidup dan landasan kerja karya misionarisnya. St. Paulus lah, yang mendirikan Congregatio Passionis Iesu Christi (C.P), atau Ordo Pasionis. Mereka berkarya di Keuskupan Agung Pontianak.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ 

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.