TANDA KESELAMATAN
09 March 2022
Rabu, 9 Maret 2022
St. Primus dan St. Felicianus
Yunus 3:1-10
Mazmur 51:3-4.12-13.18-19
Lukas 11:29-32
“Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.” --- Lukas 11:30
SEBUAH TANDA sering kali diperlukan orang untuk meyakini akan terjadinya sebuah peristiwa. Misalnya pada peristiwa akan meletusnya gunung berapi Semeru kemarin, penduduk yang tinggal di sekitar lereng gunung, sejak dahulu dapat mengenali tanda-tanda yang diberikan alam, seperti adanya perubahan hawa yang menjadi panas, mata air menjadi panas, dan guguran kaldera di bagian atas. Mengamati hal ini, mereka segera mengungsi ke tempat lain untuk menyelamatkan diri.
Di zaman tehnologi modern seperti sekarang, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dapat lebih cepat menyampaikan tanda-tanda potensi terjadinya letusan gunung berapi. Penduduk sekitar gunung tersebut perlu mengikuti tanda peringatan dengan segera mengungsi, maka mereka selamat.
Dalam bacaan hari ini, Yesus menyebut orang-orang yang mengerumuni-Nya sebagai orang jahat. Mereka meminta suatu tanda. Kalau mereka melihat ‘tanda’ yang dibuat oleh Yesus, mereka mau percaya bahwa Yesus utusan Allah. Tetapi Yesus berkata bahwa mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus (Luk 11:29). Di sini Yesus mengingatkan kembali akan peristiwa yang dialami orang-orang Niniwe yang dianggap jahat oleh Allah. Waktu itu Yunus mengatakan bahwa dalam empat puluh hari Niniwe akan ditunggangbalikkan" (Yun 3:4). Mendengar khotbah Yunus dan ancamannya , orang-orang Niniwe menyadari kesalahannya. Mereka bertobat dari tingkah lakunya yang jahat. Hal ini membuat Allah menyesal dan tidak jadi menghukum atas malapetaka yang telah dirancangkanNya (Yun 3:10).
Penyampaian peristiwa pertobatan di Niniwe dimaksudkan agar mereka tidak lagi mencari tanda untuk diselamatkan. Karena sejatinya tanda itu telah ada dalam diri Yesus. Yunus adalah ‘tanda bagi orang-orang Niniwe’, dengan khotbahnya mempertobakan orang-orang Niniwe, dan Yesus ‘lebih daripada Yunus’ (Luk 11:32). Kelebihan Yesus, selain ajaran dan kotbah-kotbah-Nya yang disampaikan-Nya dengan kuasa dan wibawa, nampak dengan mukjizat atau tanda yang dibuatnya Yesus: ‘orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar prang mati dibangkitkan’ (Mat 11: 5). Dari kata dan ajaran serta tindakan-Nya, orang-orang menarik kesimpulan bahwa Yesus itu memiliki kuasa mengampuni dosa (Mrk 2:5-12) dan menyamakan diri-Nya dengan Allah , karena menganggap Allah itu Bapa-Nya (Yoh 5:18). Yesus adalah sebuah tanda yang sangat “khusus” jika dibandingkan dengan Salomo dan Yunus - ada perbedaan yang sangat besar (Mat 12: 41-42). Orang-orang zaman Yesus yang mengalami dan menyaksikan, dengan telinga dan mata sendiri apa yang dikatakan dan dibuat Yesus, sebagai tanda yang jauh lebih agung daripada Yunus dan Salomo, mereka tidak mau bertobat dan percaya kepada Yesus , malahan menolak-Nya. Ini berrti menolak keselamatan.
Dan kita telah menerima Yesus, membaca dan merenungkan sabda-sabda-Nya serta merayakan buah-buah penebusan dalam Gereja, apakah kita tetap bersikap masa-bodoh terhadap-Nya, terhadap panggilan dan perutusan-Nya? Berbahagilah kita yang telah percaya, dan mengimani Yesus sebagai tanda kehadiran Allah Bapa, karena hanya bersama Yesus, kita memperoleh keselamatan kekal bersama Allah Bapa di surga. Tetapi kita yang telah diselamatkan ini, tidak boleh lupa akan Amanat Agung Yesus, “Pergilah dan wartakan Injil’ sebagaimana Yunus diutus Allah ke orang-orang Niniwe mewartakan pertobatan. (Thony)
DOA: “Terima kasih Tuhan Yesus untuk cintaMu yang besar. Jadikanlah pribadi kami sebagai ‘tanda’ kepedulian-Mu kepada orang-orang seputar kami.”
JANJI: "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setiaMu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! “ Mazmur 51:3-4
PUJIAN: Pak Ignasius Darko dikenal sebagai sosok pekerja yang jujur di kantornya oleh teman kolega. Ia melakukannya sebagai bentuk ungkapan syukur atas kasih Allah yang telah memberi hidup damai sejahtera dirinya bersama keluarganya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ