TANDA ZAMAN DAN TINGGAL DALAM YESUS
22 October 2021
Jumat, 22 Oktober 2021
St. Yohanes Paulus II
Roma 7:18-25a
Mazmur 119:66.68.76.77.93.94
Lukas 12:54-59
"Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” -- Lukas 12:56
SELURUH PERIKOP Lukas 12:49-59 merupakan satu pengajaran yang saling tersambung. Pada ay. 49-53, Yesus bicara mengenai konsekuensi negatif bila tidak loyal pada Allah. Pada ay. 54-57, para murid diminta untuk berpikir serta memutuskan secara jernih dan independen. Lalu, pada ay. 58-59, Yesus minta agar bertindak cepat.
Kita semua diberi anugerah kemampuan untuk “meneliti (keaslian) zaman”, namun sering enggan untuk menggunakannya (lih. ay. 56). Mengapa? Karena kita lebih suka menggantungkan diri kepada keputusan para ahli, agar merekalah yang nanti memikul tanggungjawabnya.
Melalui pengajaran-Nya, Yesus menunjukkan bahwa Kebenaran Allah itu telah dinyatakan “kepada orang kecil”, dan bukan kepada “orang bijak dan orang pandai” (lih. Luk 10:21). Dalam suratnya, Yohanes bahkan mengatakan, kita semua telah menerima pengurapan dari Tuhan, maka kita tidak perlu diajar oleh orang lain. “Pengurapan-Nya telah mengajar kamu tentang segala sesuatu ….. (yang terpenting) hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia” (lih. 1 Yoh 2:27). Tinggal dalam Yesus Kristus adalah syarat utama agar kita bisa ‘meneliti keaslian zaman’.
Tidak mudah untuk setia berada ‘dalam Yesus’, karena seperti dikatakan pada ay.49-53, banyak tarikan yang terjadi dalam diri pribadi kita sendiri. Dalam konteks kesetiaan kepada Allah, sering “musuh (yang terberat) adalah orang-orang seisi rumah” (lih. Mi 7:6). Maka, jadikanlah ‘rumah kita’ sebagai rumah Roh Kudus. Inilah evangelisasi pribadi paling awal dan paling utama dari ‘tinggal dalam Yesus Kristus’.
DOA: “Ya Allah yang Mahabaik, angkatlah kami untuk sungguh-sungguh mengenal Yesus Kristus, Putra-Mu, agar mampu melihat seluruh kehidupan kami sebagai karya kasih-Mu.”
JANJI: “Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu”. Mazmur 119:66.
PUJIAN: St. Yohanes XXIII (1881 -1963) bukanlah Paus yang secara akademis sangat pandai. Ia tidak punya gelar. Ia hanya seorang imam dan uskup yang biasa-biasa saja. Saat dipilih menjadi Paus pada 1958, ia bahkan masih harus mulai belajar Bahasa Inggris. Namun, Yohanes XXIII adalah Paus yang memutuskan penyelenggaraan Konsili Vatikan II (1962-1965). Para teolog dan ilmuwan Gereja bertanya, apa dasar keputusan itu? Jawaban Paus Yohanes XXIII singkat: ‘tanda zaman’. Itu saja. Dan terbukti, Konsili Vatikan II kemudian menjadi motor pembaruan Gereja.
Oleh: H. Witdarmono
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ