TANGGALKAN DEVOSI PALSU

08 July 2023

Sabtu, 8 Juli 2023

Kejadian 27:1-5,15-29

Mazmur 135:1-2,3-4,5-6

Matius 9:14-17


“Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat  mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” --- Matius 9:15

 

JAWABAN YESUS diatas adalah jawaban atas pertanyaan murid-murid Yohanes kepada Yesus yang berkata : "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?". Saat berbicara mengenai mempelai maka hal tersebut terkait dengan pesta perkawinan dimana terjadi suasana makan dan minum diliputi dengan suasana sukacita dan kebahagiaan.

Yesus menjawab pertanyaan murid Yohanes tersebut dengan jawaban yang mengandung unsur pertanyaan agar jawaban yang sesungguhnya terangkai lebih jelas.

Jawaban  dari pertanyaan Yesus tersebut sudah dapat dipastikan adalah “tidak dapat” atau tidak mungkin terjadi sehingga yang terjadi adalah para sahabat akan masuk kedalam suasana sukacita bersama mempelai laki-laki.

Mempelai laki-laki yang dimaksud oleh Yesus adalah diri-Nya sendiri. Selama Yesus masih ada bersama dengan murid-murid-Nya maka murid-murid dapat menikmati semua hal tentang kerajaan Surga yang sedang di wartakan oleh Tuhan Yesus. Bagaimana mungkin seseorang yang hadir dalam sebuah pesta perkawinan memamerkan kepada orang banyak bahwa dirinya datang tidak untuk makan karena sedang berpuasa.

Yesus tahu bahwa orang-orang Farisi dan masyarakat Yahudi menjalani puasa karena perintah agama sehingga banyak diantara mereka “yang terpaksa” menjalankan puasa karena faktor ketaatan yang semu dan untuk memperlihatkan kesalehan, oleh karena itu Yesus melihat bahwa mereka “tidak dengan sungguh-sungguh” menjalankan puasanya sebagai “persembahan cinta” mereka kepada Allah. Seseorang yang terikat puasa merasa dirinya taat karena tidak makan dan minum, orang tersebut tidak akan membiarkan setetes air membasahi lidahnya namun ia membiarkan lidahnya mencemarkan nama baik sahabatnya bahkan pasangan hidupnya. Seorang yang lain akan menganggap dirinya taat kepada Allah dengan berpuasa disertai untaian doa Novena atau doa Rosario setiap hari, menyanyikan lagu-lagu pujian di rumah ibadah namun pada hari yang sama ia berselingkuh dengan mengkhianati perkawinannya melalui perbuatan yang tidak bermoral, seolah Allah tidak melihatnya, ia terang-terangan menentang Allah dengan melanggar hukum-hukum-Nya. Sementara yang lain lagi merasa sudah taat dengan berpuasa dan menjadi penyumbang terbesar untuk rumah ibadah dan kegiatan rohani namun pada saat yang bersamaan ia pun tidak segan-segan menerima suap dari para koleganya.

Dengan berpuasa, mereka terlihat taat namun penuh kepalsuan, sesungguhnya mereka telah melakukan devosi palsu (penyembahan palsu) kepada Allah. Perilaku manusia seperti ini jumlahnya tidak sedikit dan masih terjadi hingga saat ini, sehingga sulit dinalar dengan logika-logika yang sehat mengapa hal tersebut terjadi. Orang-orang yang berperilaku seperti itu sesungguhnya mereka sadar bahwa Allah tidak bersamanya, ia hanya berusaha untuk hadir dalam komunitas di zaman yang penuh kepalsuan ini.

Namun satu hal yang dapat dipastikan adalah bahwa Allah tidak sungguh-sungguh hadir dalam hati nuraninya. Menjalani puasa, berarti menghadirkan Allah untuk merasuk kedalam sukma kita, maka seharusnya mustahil jika pada saat yang bersamaan seseorang justru berbuat dosa. Perilaku-perilaku seperti itulah yang tidak dikehendaki oleh Yesus, sebab Allah tidak menghendaki persembahan namun adalah bagaimana mengimplementasikan ajaran Yesus dengan hati yang bersih. Hari ini kita ditarik oleh Yesus untuk meninggalkan kepalsuan dengan mempersembahkan kekudusan hati kita. (SIS).

 

DOA: ”Ya Bapa, bersihkanlah hatiku dengan pencurahan Roh Kudus-Mu agar aku mempunyai hati yang kudus untuk selalu setia dan dekat dengan-Mu, Amin.”

JANJI: ”Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah!” - Mazmur 135:3

PUJIAN: Santo Yohanes Maria Vianney (1786-1859) adalah seorang pastor yang sangat terkenal, ia ditempatkan di kota Ars yang terpencil di Perancis. Ia berapi-api dalam berkhotbah dan memberi nasihat menyentuh kepada umat yang datang dan mengaku dosa kepadanya. Ia berkata bahwa harta orang Kristiani bukanlah berada di bumi namun di surga maka pikiran kita harus tetap fokus ke surga karena itu ia selalu mengingatkan pentingnya menjaga hati dengan berusaha untuk hidup kudus dan berdoa.

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.