TANGIS YESUS

19 November 2020

Kamis, 19 November 2020

Wahyu 5:1-10

Mazmur 149:1-2.3-4.5-6a.9b

Lukas 19:41-44

 

“Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorangpun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu, ataupun melihat sebelah dalamnya.” --- Wahyu 5:4

 

HANYA PENGINJIL LUKAS yang mengisahkan ‘Yesus menangis’ ((Luk 19:41). Ungkapan menangis (Yun. klaió) juga muncul pada Mat 2:18 sebagai komentar kutipan dari Yeremias (31:15) terhadap pembunuhan anak-anak di Bethlehem. “Rahel menangisi (Yun. klaió) anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Yesus menangisi masa depan Yerusalem, yang pada tahun 70 dihancurleburkan oleh tentara Romawi. Ketika nabi Yeremias meratapi Yerusalem, ia masih memiliki harapan untuk pembebasan dan pemulihan. “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya …, karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan, karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya” (Rat 3:22.31.32). 

Namun kali ini, tampaknya Yerusalem, “tahta Allah” (Yer 3:17), sudah tidak bisa diharapkan lagi. Mereka tidak lagi “mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteranya!” (ay 42). Kesombongan dan sikap tidak percaya dari para penguasa dan penghuni Kota Suci itu, telah menolak para nabi, serta Yesus yang telah diurapi sebagai Mesias (Yes 9:6). Yerusalem, tempat Allah mentahtakan para raja  (Mzm 2:6), telah menolak identitas diri mereka sebagai tempat di mana ada “shalem” (damai), kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya.

Saat Allah mengunjungi umat-Nya, maka Allah selalu akan menunjukkan shalem dan keadilan dengan memurnikan kemanusiaan, yaitu mencabut tiga akar dosa yang mematikan, yaitu ‘dunia, daging, dan iblis’ (Yoh 8:44). Ketiga akar itulah yang menumbuhkan dan sekaligus  menjerumuskan manusia dalam dosa.

Pengadilan Allah ini memang berat. Namun, seperti tulis Yes 26:9: “apabila Engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar.” Mampukah kita menerima ini semua? (WIT)

 

DOA : “Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menyesali dan menangisi kedosaan kami. Jangan biarkan kami terlena pada kehebatan diri yang membuat sombong. Seperti Bunda Maria, mampukanlah kami untuk selalu berucap: Tuhan, kami ini hamba-Mu, jadilah pada kami kehendak-Mu saja”. 

JANJI: “TUHAN berkenan kepada umat-Nya; Dia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan” –-- Mazmur 149:4                                         

PUJIAN: Sekilas, sosok St. Ignatius dari Loyola, mantan perwira, tampak sebagai pribadi yang sangat keras dan aktif. Namun, sesungguhnya, ia memilliki relasi yang sangat intim dengan Allah. Dalam jurnal pribadinya, ia banyak membuat catatan kecil saat mengikuti Misa Kudus. Mantan perwira itu sering menangis saat Misa, karena begitu terharu pada kasih Allah bagi mereka yang papa, yang tersisih, dan yang berdosa. Saat malam berada di balkon rumah Jesuit di Roma, Ignatius juga sering memandang bintang-bintang di langit, dan menangis terharu atas kemuliaan Allah. Sisi emosional terhadap kehadiran Allah dalam hidupnya maupun dalam hidup rekan-rekannya ini (Contemplatio ad Amorem Obtinendam), menjadi dasar dari spiritualitasnya: mencintai Allah dan mencintai dunia bisa dilakukan bersamaan.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.