TEPA SALIRA

27 June 2023

Selasa, 27 Juni 2023

Kej  13 :2,5-18;

Mzm 15: 2-5;

Matius 7:6, 12-14.


“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian kepada mereka! --- Mat 7:13


Kita sering meminta atau bahkan menuntut teman dan orang di sekitar kita untuk begini atau begitu. Sebab, menurut kita, itulah yang baik dan seharusnya mereka lakukan. Pertanyaannya: Apakah kita sendiri juga melakukan apa yang baik yang kita tuntut pada orang lain tersebut? Kalau kita menuntut teman untuk tepat waktu, apakah kita sudah tepat waktu? Kalau kita mengharapkan orang lain bersikap ramah, apakah kita sudah ramah kepada mereka? Bila kita menuntut orang lain memberikan apa yang menjadi hak kita, kita pun wajib memberikan apa yang menjadi hak mereka. Inilah keadilan dan itulah makna sabda “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (ay. 12).

Dalam bacaan pertama terjadi perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Mereka berdua memiliki banyak ternak, tetapi ladang penggembalaan di Kanaan terbatas. Agar adil, Abram dan Lot bersepakat untuk berpisah: Abram tetap di Kanaan, sedangkan Lot pergi mengambil ladang di Lembah Yordan. Tak ada keadilan tanpa kesediaan berbagi. Selama kita bersikukuh mendapatkan semua untuk diri sendiri, selama itu pula keadilan sulit terwujud. Drama harga minyak goreng tahun 2022 lalu terjadi karena ada pihak yang ingin mendapatkan semua keuntungan bagi diri sendiri, dan mengabaikan kewajibannya pada negara tempat dia berusaha. Jalan keadilan adalah jalan yang sempit, yang tidak semua orang mau melaluinya, padahal itu adalah jalan menuju kehidupan bersama yang damai sejahtera. (Obor) 

 

DOA: “Berilah kami keberanian memilih jalan yang sempit!”, Amin.

JANJI : “Sempitlah jalan yang menuju ke kehidupan”. Mat 7: 14.

PUJIAN: Berkorban: Berkorban mempunyai nilai luhur  dalam hidup.  Berkorban demi sesuatu yang lebih berharga, lebih mulia. Tiap agama mempunyai peraturan, perintah dan larangan. Umat harus mematuhinya, patuh atau taat membawa tuntutan atau pengorbanan. Ini merupakan ‘jalan yang sempit’. Tetapi ini merupakan pilihan bebas. Maka orang dalam menekuni jalan yang sempit itu dengan  sukarela, bukan terpaksa. Ini didorong oleh kepercayaan akan adanya pahala yang jauh berharga, dan ada harapan akan memperolehnya. Memang di luar itu ada jalan yang lebar, yang dapat kita pilih juga, jalan lebar yang kita jalani tanpa berkorban. Tetapi kita sadar bahwa jalan lebar itu membawa ke tempat bukan tujuan kita beragama. Berkorban adalah taruhan hidup, yang hanya sekali kita miliki. Kita tidak bisa memaksakan pilihan kita pada orang lain, sebagaimana orang lain pun tidak bisa memaksakan pilihannya pada diri kita. Dalam hal ini kita perlu ‘tepa salira! Atau ‘bertenggang rasa’. Artinya, Sikap dan perlakuan kita terhadap orang lain, kita terapkan dulu pada diri kita sendiri. Kalau kita sendiri tidak senang, ya jangan kita terapkan pada orang lain. Kita harus arif.  *****

Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.