TERPUJILAH BUAH RAHIMMU, YESUS
21 December 2022
Rabu, 21 Desember 2022
Peringatan fakultatif St. Petrus Kanisius
Kidung 2:8-14 atau Zefanya. 3:14-18a
Mazmur 33: 2-3. 11-12. 20-21
Lukas 1:39-45
“Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Karena Dia, hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus, kita percaya”. - Mazmur 33: 20-21.
MUNGKIN, KETIKA MARIA “bergegas ke pegunungan menuju sebuah kota di wilayah Yehuda” (Luk. 1:39) untuk mengunjungi Elisabet, yang hamil enam bulan, ia menyanyikan Mazmur 33: “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan perisai kita! Karena Dia, hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus, kita percaya” (ay. 20-21).
Pada dekade 1960-an, mungkin nyanyian Maria itu mirip lagu Tous les Chemins (diterjemahkan sebagai “Semua Kembang Bernyanyi”, lih. Puji Syukur, 703), karya ‘Soeur Sourire’ (Suster Bersukacita), Sr. Luc Gabriel, O.P. (1933-1985). Salah satu liriknya adalah: “Et chantent les prés, et chantent les fleurs. La joie est dans mon cœur” (“padang rumput bernyanyi, bunga-bunga bernyanyi, (karena) sukacita ada di dalam hatiku”). Inspirasi Tous les Chemins adalah Mzm. 33!
Maria pun kemudian ‘memakai’ tema “Hatiku bersukacita” dari Mzm. 33, dalam Kidung Magnificat: “hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk. 1:47). Mengapa? Salah satunya karena bayi dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan setelah mendengar salam dari Maria (lih. Luk. 1: 44). Maria yang ditemui Elisabet bukan lagi sekedar sanaknya. Ia telah menjadi “ibu Tuhanku”, dan karenanya “diberkati di antara semua perempuan dan diberkati buah rahimmu” (ay. 42-43).
Konsep mengenai ‘rahim’ (Yun. koilia; Latin: venter) banyak mengacu pada PL, di mana rahim/kandungan (Ibr. rechem) dipahami sebagai tempat pertama Allah memulai karya keselamatan-Nya bagi manusia (lih. Yer.1:5).
“Salam Gabriel” (Luk.1:28), dan ‘Fiat-nya Maria (Luk. 1:38) adalah awal karya keselamatan Allah bagi manusia. Iman ini bisa kita hayati dengan selalu berdoa Salam Maria, dengan mendaraskan “terpujilah buah RAHIM-mu, Yesus”. (WIT)
DOA: “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan serta-Mu, terpujilah Engkau di antara kaum perempuan, dan terpujilah buah rahimmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin”
JANJI: “TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni Tuhan, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi”. - Zefanya 3:15
PUJIAN: Awalnya, doa Salam Maria hanya satu bait saja. Ia pertama kali ditemukan pada pecahan tembikar peninggalan Gereja Koptik di Mesir tahun 600-an. Di situ tertulis dalam Bahasa Yunani: “Chaire, kecharit?men? Maria” atau ‘Salam, engkau telah dirahmati, Maria’ (Luk.1:28). Dalam perkembangannya, doa tersebut ditambah dengan ‘salam dari Elisabet’ pada Luk.1:42: “Terpujilah engkau di antara para perempuan, dan terpujilah buah rahimmu”. Kemudian, ketika terjadi ‘Black Death’, wabah pes terhebat di Eropa antara 1347-1351, yang menewaskan lebih dari 25 juta orang, umat menambahkan pada akhir doa Salam Maria: “doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati”. St. Petrus Kanisius, SJ (1521-1597), kemudian memasukkan bagian akhir Salam Maria itu dalam Summa Doctrinae Christianae (Ringkasan Ajaran Kristen, 1555), yang kemudian dikenal sebagai ‘Katekismus Petrus Kanisius’. Pada 1566, ‘katekismus’ tersebut menjadi katekismus resmi Konsili Trente. Inilah jasa St. Petrus Kanisius, yang kita peringati hari ini, terkait doa Salam Maria.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ