TIDAK LAYAK DAN PANTAS

04 December 2023

Senin, 4 Desember 2023

Minggu Adven I

Yesaya 2:1-5 atau Yesaya 4:2-6

Mazmur 122:1-2.3-4a.(4b-5.6-7).8-9

Matius 8:5-11


 

“Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: ”Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” --- Matius 8:8


KALIMAT YANG sering kita dengar, “Kalau sudah duduk, lupa berdiri”, untuk memberi sentilan bagi para pejabat yang enggan atau tidak bersedia meninggalkan jabatannya. Anak-anak jaman now memakai kalimat “Mager ahh!” untuk mengekspresikan keengganannya untuk berubah. Pada umumnya manusia amat tidak suka dengan perubahan. Sebab diperlukan banyak usaha untuk melakukan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungan yang baru. Mereka sudah merasa aman dan nyaman berada dalam zona-nya.

Kepada para murid-Nya Tuhan Yesus memerintahkan untuk pergi dan mewartakan Kabar Baik kepada semua orang. (Mat 28:18-20). Kita adalah juga murid-murid Yesus masa kini. Hal ini berarti kita harus keluar dari zona nyaman dan “berbuat” sesuatu untuk melakukan tugas pewartaan itu. Kita harus berani mengambil inisiatif. Pewartaan Kabar Baik tidak mungkin terjadi bila kita tidak mempunyai inisiatif untuk melakukannya. Dalam terang kuasa Roh Kudus, muncul spirit untuk mewartakan Kabar Baik. Kita juga harus siap sedia menghadapi beragam risiko yang muncul dari pelaksanaan tugas pewartaan itu. Risiko dimaksud dapat berupa adanya pengorbanan untuk meluangkan waktu, pikiran, tenaga dan biaya.

Bacaan hari ini mengingatkan kita akan beberapa hal penting:

Pertama, betapa perlunya bagi kita untuk mempunyai inisiatif guna membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan.

Kedua, menyadari kelemahan dan keterbatasan kita.

Ketiga, perlunya keyakinan yang teguh bahwa Tuhan punya kuasa untuk menolong kita keluar dari masalah yang kita hadapi.

 

Seorang perwira Roma mempunyai inisiatif mencari pertolongan demi hambanya yang lumpuh dan menderita. Jadi bukan karena sang perwira itu sendiri yang sakit atau butuh pertolongan. Si perwira itu datang dan mendapatkan Tuhan Yesus. Dia mengambil inisiatif untuk menemui Tuhan Yesus, meskipun dia sendiri sedang tidak membutuhkan bantuan. Sang perwira mempunyai keyakinan penuh bahwa Tuhan Yesus, orang Nasareth itu, mampu dan mempunyai kuasa untuk menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Keyakinan yang bisa jadi didapatkanya dari cerita-cerita orang lain. Sebab dia bukan orang Israel, bukan pula pengikut Tuhan Yesus. Sang perwira juga menyadari betapa pada saat itu Tuhan Yesus pasti sedang dibutuhkan pula oleh banyak orang lain di Kapernaum. Jumlah orang yang membutuhkan-Nya pasti lebih banyak daripada satu orang hambanya yang lumpuh itu. Sehingga perwira itu memohon agar Tuhan Yesus tidak perlu repot-repot untuk hadir secara fisik ke tempat kediamannya. Cukup bersabda saja dari tempat itu, perwira sangat yakin bahwa hambanya yang di rumah pasti akan sembuh. Kuasa dari Sabda Tuhan Yesus pasti akan menghilangkan penderitaan hambanya. Ada beberapa pertimbangan yang membuat perwira itu menyampaikan permohonannya. Pertama, perwira Roma itu tidak ingin merepotkan Tuhan Yesus yang sedang dibutuhkan oleh banyak orang lain. Kedua dia sendiri merasa tidak pantas, karena menyadari dia bukan pengikut Yesus. Dia menyadari dia bukan siapa-siapa. Sehingga dirasa amatlah berlebihan bagi dirinya apabila Tuhan Yesus sampai harus hadir ke tempat kediamannya. Ketiga, di hati kecilnya, si perwira Roma itu sangat yakin bahwa Yesus pasti mampu menyembuhkan hambanya meskipun hanya dengan bersabda saja. Dia percaya sepenuh hati bahwa Sabda Tuhan Yesus mempunyai kuasa menyembuhkan atas penyakit yang diderita hambanya. (Hadi Karyono).

 

 

DOA: ”Ya Tuhan, seringkali iman kami tidak cukup besar untuk meyakini bahwa Engkaulah Penyelamat kami. Penebus kami yang akan membebaskan kami dari kuasa dosa. Kami sering kurang percaya. Bantulah kami ya, Tuhan agar dari hari ke hari iman kami semakin bertumbuh besar sehingga menjadi seteguh iman Perwira Roma itu. Suatu keteguhan iman yang akan menuntun kami kepada kehidupan yang kekal. Amin.”

JANJI: ”Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: ”Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa.” Mazmur 122:6

PUJIAN: St. Yohanes dari Damsyik. Lahir di Damsyik pada tahun 650. Pada masa itu Damsyik dibawah kekuasaan kaum Sarasin. Ayahnya, Sargun bin Mansur (seorang Arab Kristen) adalah menteri keuangan pada Khalif Abdel Malek di Damsyik. Semenjak kecil ia dididik oleh seorang rahib Yunani. Ketika ayahnya meninggal, ia menggantikannya sebagai Menteri Keuangan. Pada masa itu, Kaisar mengeluarkan larangan bagi orang Kristiani memiliki patung atau gambar Tuhan, Bunda Maria, Para Kudus. Namun Yohanes tidak setuju dengan perintah Kaisar. Paus sendiri meminta Yohanes memberitahu umat bahwa sangatlah baik memiliki patung dan gambar para kudus. Kaisar menjadi marah dan Yohanes pun mengundurkan diri dari jabatan sebagai Menteri Keuangan. Ia membagikan semua kekayaannya kepada kaum miskin dan menjadi pertapa di biara Mar Saba, dekat Yerusalem. Di biara itulah ia menulis buku-buku pembelaan iman (apologetik). Bersama seorang rahib lainnya, ia juga mencipta banyak syair dan madah-pujian. Santo Yohanes meninggal dengan damai dan bahagia pada tahun 749.

Penanggung Jawab RH: Komunitas MBA (Mari Baca Alkitab)

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.