TIGA ‘FIAT’
18 December 2020
Jumat, 18 Desember 2020
Yeremia 23:5-8
Mazmur 72:2.12-13.18-19
Matius 1:18-24.
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.” Matius 1:24.
ADA TIGA ‘FIAT” (bhs. Latin, artinya ‘terjadilah’) dalam Sejarah Keselamatan, yaitu “Jadilah terang” (Kej 1:3), “Jadilah saling mengasihi” (Yoh 13:34-35), dan “Jadilah ‘kehidupan baru’ dalam Kristus” (sebagai dampak jawaban Maria kepada malaikat Gabriel pada Luk 1:38).
Setiap ‘Fiat’ memiliki narasi dan dramanya sendiri, yang semuanya berpusat pada Kasih Allah dan anugerah Iman.
Perikop Mat 1:18-24 adalah drama dari ‘Fiat’ ketiga. Ia menggambarkan perjuangan Yusuf dan Maria untuk mengimani kehendak Allah. Perjuangan mereka berat, karena kendala sistem sosial masyarakat. Namun, mereka tetap setia “berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan” (ay. 24; juga Luk 1:38).
Yusuf dan Maria adalah model orang beriman. Mereka setia menjadi saksi dan hamba bagi rencana Keselamatan Allah kepada manusia. Mereka tidak memikirkan posisi dan nasib mereka di masyarakat. Kesetiaan dan kesatuan dengan Allah itulah yang menyelamatkan umat manusia. Yusuf dan Maria sungguh meyakini hal itu, seperti dikatakan pada Mzm. 146:5.7-8:
“(5) Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: … (7) yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, (8) TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar”.
Beranikah kita memakai teladan kesetiaan dan kesatuan dari Maria dan Yusuf itu untuk memelihara keluarga kita, panggilan kita, serta perngabdian kita kepada masyarakat? (WIT).
DOA: “Ya Bapa yang Mahakuasa, melalui perantaraan Santo Yusuf, ajarilah kami setia pada panggilan-Mu, tidak banyak berargumentasi maupun membantah, namun hanya dengan kerendahan hati mengikuti suara-Mu saja”.
JANJI: “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja, yang bijaksana, dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri”. -- Yeremia 23:5
PUJIAN: Dalam kisah-kisah Injil mengenai St. Yusuf, tidak ada sepatah kata pun, yang diucapkan oleh suami Bunda Maria itu. Tampaknya, ini sesuai dengan makna nama ‘Yusuf’ dalam Bahasa Hibrani, yaitu “Yahweh akan menambahkan”. Melalui nama itu, ditunjukkan bahwa dalam berbagai situasi kehidupannya, hanya Allah itu saja, yang bergerak dan bertindak, bukan manusia. Meletakkan hidup di tangan Allah, adalah spiritualitas St. Yusuf.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ