“VISITATIO” ALLAH KEPADA KAUM PEREMPUAN
20 December 2020
Minggu, 20 Desember 2020
HARI MINGGU ADVEN IV
2 Samuel 7:1-5.8b-12.14a.16
Mazmur 89:2-3.4-5.27.29
Roma 16:25-27
Lukas 1:26-38
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. (Luk. 1:38),
KERANGKA PERIKOP ‘Pemberitaan Kelahiran Yesus’ ini adalah kisah-kisah Perjanjian Lama, di mana Yahwe mengawali penyelamatan umat-Nya melalui visitatio (Lat.), atau kunjungan-Nya (lawatan) kepada kaum perempuan: kepada Sarah, ibu Iskak (Kej. 18:9-15), kepada Hana, ibu Samuel (1 Sam. 1:9-18), dan kepada ibu Simson (Hkm. 13:2-5).
Melalui visitatio itu, diwartakan, akan lahir seorang anak, yang akan mewujudkan misi penting Penyelamatan Ilahi bagi manusia.
Dalam kisah visitatio Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria di Nazaret, kerangka ini juga dipakai, bahkan ditonjolkan. Warta kepada Elisabet ditempatkan di awal dan di akhir kisah melalui pengungkapan kehamilan Elisabet yang sudah memasuki “bulan keenam” (lih. ay. 26 dan 36). Secara definitif, intervensi Ilahi ini ditegaskan dengan pernyataan: “Bagi Allah, tidak ada yang mustahil” (ay.37), sebuah pernyataan Yahwe kepada Abraham di akhir kisah ‘janji keturunan’ (lih. Kej. 18:14).
St. Ireneus dari Lyon (130-202), pujangga Gereja Abad II, meyakini, seluruh alur kunjungan Yang Ilahi kepada kaum perempuan, khususnya kepada Bunda Maria, sangat penting dalam Sejarah Keselamatan. Ia menunjukkan, bila pada awalnya, Setan mengarahkan pemberontakan manusia melalui Hawa, maka kini, Allah memasuki kemanusiaan melalui rajutan ketaatan Bunda Maria.
“Dengan mengatakan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38), simpul dosa akibat ketidaktaatan Hawa, telah diurai melalui ketaatan Maria. Apa yang telah diikat kuat oleh perawan Hawa, karena ketidakpercayaannya, kini telah dilepaskan oleh Perawan Maria melalui imannya. Bunda Maria adalah ‘Hawa baru’. Dengan berdiri di dekat Yesus yang tersalib, ia menjadi co-redemptrix (penebus bersama). Artinya, Maria mengambil bagian dalam tindakan penebusan Kristus,” demikian tulis Ireneus.
Bagi kita, bersediakah kita meneladani iman, ketaatan, serta karakter ‘hamba’ Tuhan dari Bunda Maria, saat menerima dan merasakan visitatio Allah dalam kehidupan konkret kita? (WIT)
DOA: “Allah yang Mahapengasih, kami bersyukur karena Engkau telah memberikan seorang Ibu, yaitu Bunda Maria, sebagai perantara doa dan permohonan kami ke hadapan-Mu. Ajarilah kami untuk makin mampu meneladani Bunda Maria, agar kami juga bisa menunjukkan kerahiman-Mu kepada sesama kami”.
JANJI: "Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit”. --- Mazmur 89:2-3
PUJIAN: Di beberapa tempat, menjelang 25 Desember, biasanya ada “Novena Kanak-kanak Yesus”. Di Gereja Katolik, kebaktian ini merupakan tradisi yang sudah sangat tua. Banyak para kudus, misalnya St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, St. Fransiskus dari Sales, St. Antonius dari Padua, dan St. Teresa dari Avila, telah melakukannya. Mungkin, kita bisa melakukannya dengan Triduum, Trihari Suci, untuk menyambut Natal.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ