YANG FANA DAN YANG BAKA
23 June 2023
Jumat, 23 Juni 2023
2Kor. 11: 18,21b-30;
Mzm. 34: 2-3, 4-5,6-7;
Mat. 6: 19-23.
“Jika aku harus bermegah, aku akan bermegah atas kelemahanku” --- 2Kor 11:30
Jangan menilai sesuatu dari bentuknya, tetapi dari substansinya. Jika dinilai dari bentuk luar yang kasat mata, Paulus hanya mengalami kekalahan demi kekalahan, penderitaan demi penderitaan. Dalam Bacaan Pertama, Paulus berbicara ia sering dipenjara, didera di luar batas, disesah orang Yahudi, dilempari batu, terkatung-katung di laut, mengalami karam kapal, dan seterusnya (ay. 23-27). Dalam kacamata duniawi, semua itu adalah bentuk kelemahan belaka. Akan tetapi, bila dilihat dalam kacamata iman, semua yang tampak sebagai kelemahan itu justru adalah alasan untuk bermegah. Sebab, pada substansinya, semua itu diderita dan ditanggung oleh Paulus demi mewartakan Kristus. Bagi orang beriman, salib bukan kekalahan yang memalukan, melainkan kemenangan yang membanggakan.
Dalam bacaan Injil hari ini, Paulus tidak sedang mengumpulkan harta di bumi yang dapat di makan ngengat dan dicuri orang, tetapi mengumpulkan harta di surga yang tak lekang oleh karat dan tak dapat dicuri orang. Yesus dan Paulus tidak meremehkan arti penting harta di bumi. Karena itulah selama merasul, Paulus juga menjadi tukang tenda agar dapaat membiayai hidupnya sendiri. Yesus pun menerima bantuan dari para perempuan kaya yang mengikuti-Nya (Luk. 8:3) dan bahkan menunjuk Yudas Iskariot sebagai beendahara para rasul (Yoh. 13:29). Harta di dunia penting dan diperlukan untuk hidup layak, namun itu bukan yang paling substansial. Bila kita bersedia berjuang demi harta duniawi yang fana, lalu beranikah kita berjuang demi harta surgawi yang kekal? (Obor)
DOA : “Semoga kami selalu ingat perlunya mengumpulkan harta surgawi”, Amin.
JANJI : “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada!”. Mat 6: 21.
PUJIAN: Seorang pangguna buku Renungan ini, pernah bersaksi dalam Temu Umat Lingkungannya, ia dulu pernah bersikap ’aku tidak punya uang, untuk beli beras dan beri sangu sekolah anak2, aku tidak bisa berdoa. Hatinya tidak damai dan tidak tenang, Sewaktu ia mendahulukan doa, ia lalu bisa pasrah pada Tuhan yang Maha-Penyelenggara. Ia juga lalu merasa damai dan tenang, dan kebutuhannya selalu tercukupi. ******
Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ