YANG PENUH DENGAN ROH KUDUS
26 December 2020
Sabtu, 26 Desember 2020
St. Stefanus - Martir
Kisah Rasul 6:8-10; 7: 54-59
Mazmur 31:3-4, 6-8, 16-17
Matius 10: 17-22
“Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebel;ah kanan Allah” --- Kisah para Rasul 7:55
ADA YANG bertanya: Mengapa peringatan Kelahiran Yesus, yang dipersiapkan selama empat minggu, hari berikutnya sudah diganggu dengan peringatan Santu Stefanus?
Umumnya dijawab: pusat iman dan ibadat kristiani adalah Paska. Perayaan Natal baru muncul di kemudian hari. Tanpa Pekan Suci, tanpa Paska tidak ada umat kristiani.
Hidup Santu Stefanus yang menjadi bintang zaman Gereja Perdana penuh dengan Roh Kudus (Kisah 6:5; 7:55). Bicara tentang hidup kristiani yang penuh Roh Kudus, seperti Stefanus, martir pertama ini, mengingatkan kita akan seseorang dari Gereja Orthodox Rusia. Namanya Serafim Sarov (1754-1833) dan dinyatakan kudus oleh Gereja di tahun 1903. Ia dikisahkan senang sekali mengatakan bahwa seluruh tujuan hidup kristiani ialah ‘memperoleh Roh Kudus’. Tentu kita sadar bahwa Roh Kudus adalah karunia bebas dari Allah yang diberikan kepada kita. Kita tak mungkin bisa seenaknya mendapatnya lalu bisa membuang lagi dan mendapat lagi!
Kita diurapi Roh Kudus sewaktu kita menyambut Sakramen Inisiasi, khususnya Baptis dan Krisma. Tetapi sebagaimana ‘kado’, karunia itu menjadi sia-sia kalau kado itu tidak kita buka dan manfaatkan. Sewaktu kita secara khusus diurapi dengan Roh Kudus, atau pencurahan Roh Kudus, saat itu kita baru sadar perlunya membuka karunia itu dan menggunakannya selanjutnya. Maka ‘memperoleh urapan Roh Kudus’ itulah usaha dan tujuan tertinggi dalam hidup kita sebagai orang kristiani.
Santo Stefanus adalah seseorang yang ‘memperoleh’ Roh itu. Sebagai-mana orang kristiani umumnya, Stefanus dengan penuh kesetiaan tumbuh berkembang dalam dasar sehari-hari hidup dalam Kristus: yakni, dalam ajaran para rasul, persekutuan dengan sesama beriman dalam Kristus, dalam Ekaristi dan Doa (Kis 2:42).
Lukas menyebutnya dua kali mengenai Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus (Kis 6:5 dan 7: 55). Yang pertama berhubungan sewaktu pelayanan Stefabus sebagai Diakon pertama dalam Gereja; dan kedua, sewaktu dia di masyarakat umum melayani penyembuhan dan pewartaan. Roh Kuduslah yang memampukan dia mengalami kematian dengan penuh sukacita, sebagai martir pertama. Hidup Stefanus sangat inspiratif dan membuka wawasan bagaimana menjadi saksi Kristus.
Sebelum masa Natal berakhir, sebaiknya menyisihkan waktu untuk merenung apa karunia Roh Kudus yang diangerahkan kepada kita masing-masing. Yang jelas Kristus akan memberi karunia-Nya lagi, kalau kita berusaha dalam hidup ini membuka diri kepada-Nya. Tak perlu yang besar-besar, cukup mulai dengan yang kecil dan sederhana. Upama, kita mau menyisihkan waktu barang lima menit tiap pagi untuk menghadap-Nya untuk bersyukur dan memohon berkah-Nya bagi aktivitas hari itu. Entah di rumah atau di tempat kerja, juga menyisihkan waktu untuk membaca dan merenungkan Sabda Allah. Sekarang bahan melimpah, baik tertulis maupun digital. Sabda-Nya selalu menyertai kita, ke manapun kita pergi, antara lain lewat applikasi di HP kita masing-masing. (SW)
DOA: Ya Yesus, curahi dan urapi diriku dengan Roh-Mu yang memampukan diriku menjadi saksi-Mu dalam hidup sehari-hari.
JANJI: “Janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu, Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu!” --- Matius 10:19-20
PUJIAN: Stefanus, dalam Bahasa Yunani, berarti ‘mahkota’. Karena kesetiaannya yang tak pernah luntur dalam dasar-dasar hidup kristiani sebagai murid-Nya, ia dikarunia ’mahkota kemartiran’, dan di surga ia memperoleh ‘mahkota kemuliaan kekal’.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ