YERUSALEM LAMA AMBYAR
26 November 2020
Kamis, 26 November 2020
St. Yohanes Berchmans
Wahyu 18:1-2, 21-23; 19:1-3,9a
Mazmur 100:2-5
Lukas 21:20-28
“Pada waktu itu, orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan”--- Lukas 21:27
MINGGU LALU adalah Pesta Kristus Raja, berarti Minggu Akhir di Masa Biasa. Dan Minggu depannya adalah Minggu Advent I. Bacaan-pertama dan Injil selama sepekan selalu seputar ramalan peristiwa akhir zaman, yang menyeramkan. Ramalan tentang hancurnya Yerusalem dan ramalan tentang malapetaka yang akan menimpa bumi.
Bagi orang-orang Yahudi dan umat Kristiani Perdana, ramalan itu menyeramkan dan sangat menakutkan. Bagi mereka Yerusalem adalah kota suci di mana ada Bait suci tempat Ibadat mereka menyembah Allah. Kalau itu hancur, lalu mau ke mana mereka ?
Ini khas Injil Lukas yang membeberkan peristiwa hancurnya Yerusalem sampai sekecil-kecilnya. Kemungkinan besar Lukas benar-benar menyaksikannya dan Injil ditulis setelah kehancuran Yerusalem.
Dari segi sejarah, Flavius Yosephus mencatat hancurnya Yerusalem di tahun 70 diakibatkan bangsa Yahudi memberontak terhadap pendudukan Romawi. Dilaporkan tentara Romami menyerbu kota dan menewaskan satu juta seratus ribu orang. Ini tidak mengherankan karena banyak orang yang datang berziarah di Hari Agung Paska Yahudi waktu itu. Sejak itu orang-orang Yahudi tersebar berserakkan ke seluruh penjuru. Dan Bait suci tiada lagi, tinggal tembok untuk menjadi tempat orang Yahudi meratapinya.
Kehancuran kota itu menegaskan cara pandang baru bagi umat kristiani perdana tentang Yerusalem dan kesadaran bahwa rencana keselamatan Allah itu memasuki tahapan baru menyongsong kedatangan Yesus ke kota suci. Maka tidak heran akan adanya mimpi Yerusalem Baru.
Dan tentang bencana alam yang diramalkan, bagi kita entah itu tsunami, gempa, banjir, gunung meletus, sering kita dengar, saksikan dan alami sendiri.
Di tengah bencana dan malapetaka itu Firman Tuhan selalu menyejukkan dan menghibur, ‘Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan nikah Anak Domba” (Why 19: 9a). Dan Lukas menuliskan hiburan meneguhkan, “bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamat- anmu sudah dekat” (Luk 21: 28), Kita diminta tetap mengarahkan diri kita kepada Yesus, agar kita tetap tabah dan tekun memuji serta memuliakan Dia, sambil tetap setia menolong sesama kita yang tertimpa derita. SW
DOA: Yesus, aku tetap percaya akan kasih-Mu. Aku akan tetap tegak berdiri memuji-Mu dan selalu siap meluaskan Kerajaan-Mu.
JANJI: “Apa bila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelematanmu sudah dekat”--- Lukas 21:28
PUJIAN: Adanya kebiasaan baru, sewaktu umat mengadakan Ibadat pelepasan jenasah. Tak lagi dipakai pakaian berwarna hitam atau ungu, tepapi putih. Putih yang menandakan iman akan kebaikan dan kerahiman Tuhan, hiburan bagi keluarga yang berduka.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ