YESUS BUKAN DARI DUNIA INI
05 April 2022
Selasa, 5 April 2022
Santo Vinsensius Ferreri
Bilangan 21:4-9
Mazmur 102:2-3.16-18.19-20
Yohanes 8:21-30
“Mereka yang bertanya “Siapakah Engkau?” Jawab Yesus “apakah gunanya aku berbicara lagi dengan kamu?” --- Yohanes 8:25
ADA DUA pemerintahan dalam dunia ini yakni, pemerintahan dengan kebijakan demokrasi dengan sistem suara rakyat lebih diutamakan untuk kepentingan negara yang adil dan sejahtera. Dan ada pemerintahan yang berdasar pada kebijakan yang menganut sistem otoriter, di mana pemerintah memegang kekuasaan penuh tanpa campur tangan rakyat dan memimpin dengan tangan besi. Kedua bentuk pemerintahan ini punya sifatnya masing-masing, demokrasi dengan sifat menghargai kebebasan pribadi , dan otoriter dengan sifat berkuasa penuh sedang warga tinggal tunduk dan patuh,s. Namun, jika dua pemerintahan ini di dunia itu diletakkan pada pemerintahan Tuhan Allah, manakah yang lebih cocok untuk disematkan pada pemerintahan Tuhan Allah? Sukar dapat diterapkan. Yang manusiawi mau diterapkan pada yang ilahi, yang sementara dan terbatas mau diterapkan pada yang tanpa batas dan abadi !
Kebebalan hati seseorang membuat mereka terus bertanya dan melupakan bahwa mereka harus berpikir sejenak untuk mengintrospeksi diri. Itu yang dihadapi Yesus akan orang-orang yang bertanya. Yesus merasa tak ada gunanya menanggapi pertanyaan mereka. Ketika seseorang terlalu lama berjuang, sedang yang diperjuangkan terus merasa bingung dan butuh kepastian, maka yang terus berjuang akan merasa kecewa dengan apa yang diperjuangkan.
Hal ini dirasakan Yesus, ketika orang banyak selalu merasa tidak puas akan karya Yesus, dan kemudian meragukan kasih-Nya. Cinta yang dari Tuhan sendiri sudah nampak dalam setiap perbuatan-Nya, namun keraguan akan cinta Tuhan itu yang menjadikan kita manusia kerap mengalami kejatuhan yang teramat sangat. Membenci Tuhan karena doa yang tidak dikabulkan menimbulkan banyak keraguan yang tidak berdasar.
Dengan banyak pengalaman yang saya miliki, mampukah saya memberikan yang terbaik untuk diri sendiri, untuk keluarga, masyarakat hingga akhirnya pada taraf yang lebih tinggi yakni cinta pada Tuhan. Kesetiaan dan cinta pada Tuhan tidak diukur dari sejauh mana saya berbuat kasih besar kepada orang lain, tapi sejauh mana saya menerima diri saya sendiri dan peduli serta mencintai diri saya terlebih dahulu. Dan yang lebih luhur lagi, ukuran itu bukan diri pribadi saya, tetapi melangkah keluar, ukurannya adalah Yesus sendiri. Karena Ia berasal dari Allah, maka Ia bersabda kepada para murid, “Aku memberi perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 13: 34-35; 15: 12). Ia lebih dulu mengasihi kita dan kita diminta mencintai sesama kita, bukan seperti saya mencintai diri saya, melainkan seperti Tuhan sendiri mencintai saya . (RKL)
DOA: Allah Bapa Mahabaik, terima kasih atas rahmat yang Kau berikan padaku. Kiranya rasa syukurku ini tidak hanya berhenti ketika aku merasa senang saja, tetapi tetap kurasakan ketika aku juga sedang sedih dan gelisah. Semoga karena cinta-Mu kepada diriku , akupun semakin memberikan kasih kepada sesama. Amin.
JANJI: “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah bentengku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” - Mazmur 27:1
PUJIAN: Paus Yohanes XIII ketika mengunjungi sebuah penjara, berkata “Mengapa aku mengunjungi kalian?”. Dia berhenti sejenak, sehingga para napi itu mulai berpikir. Lalu dia melanjutkan dengan kata-katanya yang menggelitik, “karena hanya aku yang dapat mengunjungi kalian, kalian tidak dapat mengunjungiku meskipun kalian nanti sudah bebas.” Pernyataan yang diberikan Paus tersebut sungguh mendalam dan memberi arti cinta Tuhan yang sesungguhnya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ