YESUS MENANGIS?

21 March 2021

Minggu, 21 Maret 2021

Minggu Pra-Paska V

Yehezkiel 37:12-14

Mazmur 130:1-8

Roma 8:8-11

Yohanes 11:1-45


“Akulah Kebangkitan dan Hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” Yohanes 11:25-26


KISAH KEBANGKITAN Lazarus merupakan salah text yang lengkap atas suatu peristiwa. Selain Lazarus yang mati, di situ ada kakak beradik, Martha dan Maria, Yesus sendiri berserta para rasul, dan tentu saja beserta orang-orang yang datang ‘melayat’ dan ikut pergi ke kuburan menyaksikan ‘peristiwa’ yang menggegerkan. 

Kita bisa bertanya, bagaimana mungkin sang Raja semesta sampai menangis? Apa yang menggerakan hati dan rasa perasaan Yesus sampai Ia tidak hanya masgul dan terharu tetapi malah Yesus sendiri ikut menangis (Yoh 11:35)?

Yohanes sampai menulis demikian tentu ada alasannya. Mungkin saja karena Yesus menyaksikan Maria saudari Martha dan orang-orang yang ikut berkabung menangis (Yoh 11:33). Atau bisa saja Yesus ikut berduka dan berkabung akan meninggalnya seseorang yang sangat dicintai, atas orang-orang banyak yang hadir di situ yang tunduk bersimpuh pada maut!

Kalau kita baru berkabung atas kematian teman atau keluarga, alangkah terhiburnya kalau Yesus hadir berada di samping kita. Yesus ikut ambil bagian dari sakit dan duka kita. Yesus ingin sekali merangkul kita untuk menghibur dan meneguhkan hati kita, tetapi lebih-lebih Ia ingin menyerap ‘laralapa’, duka-nestapa dari kita. Ia mengingatkan agar kita yang berkabung atas kematian seseorang yang tercinta, bukanlah suatu tanda lemahnya iman. Itu tanda atau ungkapan betapa kasih kita kepada-nya, dia yang meninggalkan kita selamanya.

Sebagaimana Yesus ingin menghibur kita atas kematian seseorang yang dekat di hati kita, Ia juga ingin sekali mengisi kita dengan harapan akan janji kebangkitan. Setiap hidup orang ada dalam genggaman tangan-Nya. Tak seekor burung pipit yang jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan-Nya. Yesus senantiasa menemani orang-orang yang berada dalam sakratul maut, untuk merangkulnya, menjemputnya dan menganugerahi tempat dalam Kerajaan-Nya. Biarlah Yesus menghibur kita dan tak akan pernah meninggalkan kita. Yesus ingin sekali menyadarkan kita bahwa betapapun sedih dan sakit di hati atas meninggalnya seseorang yang kita cintai, yang percaya kepada-Nya, dia tetap akan selamat di tangan-Nya.

Dan kita dapat mempercayakan penuh diri kita pada-Nya, kita mengandalkan sabda-sabdaNya yang membawa harapan dan hiburan yang mengusir putus asa kita dan kegelapan. (SW)

DOA: “Tuhan, aku percaya pada-Mu. Aku ingin bangkit bersama-Mu. Biarkanlah aku tahu kehadiran-Mu sekarang dan hari ini, di sisiku.”

JANJI: “Jika Roh Dia yang telah membangkitkan Yesus, ...diam di dalam kamu, maka, Ia yang telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati, akan membangkitkan juga tubuhmu yang fana itu oleh RohNya.” Roma 8:11.

PUJIAN: Dalam suatu Seminar tentang Liturgi, ada yang bertanya ‘biasanya kalau Misa Requiem, pakaian kasula romo yang memimpin Misa itu, hitam. Mengapa, pernah saya saksikan, ada romo yang berpakaian kasula putih? Romo yang memberi seminar menanggapinya: Benar dulu Misa Requiem atau peringatan, selalu memakai kasula berwarna hitam; kemudian ada pilihan lain, yakni warna ungu, tanda bersedih, tetapi sekarang ada yang juga memakai kasul warna putih, yang lebih mengungkapkan kemenangan kebangkitan atas maut.

Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Tutup Jendela
Donasi

Darurat : Banjir Jakarta 100 Rumah Terdampak

27%
Terkumpul Rp. 27.791.000
Goal Rp. 100.000.000
Donatur 207 kebaikan
Doa 178 doa

Pilih jumlah donasimu

Rp.