YOHANES PEMBAPTIS, SANG PENYIAP JALAN
09 December 2018
Minggu, 9 Desember 2018
Minggu Advent II
Barukh 5:1-9
Mazmur 126:1-2ab, 2cd-3-4-5-6
Filipi 1:4-6,8-11
Lukas 3:1-6
“.... Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan ...” ---- Lukas 3:4-5
DI JAKARTA, IBU KOTA negri, sering kali orang menyaksikan iring-iringan mobil pejabat atau orang penting, didahului oleh satu dua sepeda motor gedhe dikendarai polisi, dan di belakangnya ada satu mobil khusus, disertai suara sirene yang sering meraung-raung. Mereka ini Voorijder, yang mendahului dan mengawal serta pembuka jalan. Umumnya mereka tidak perduli jalanan sedang macet atau tidak, baik di jalan protokoler atau di jalan tol sekalipun. Kita diminta memprioritaskan perjalanan mereka. Benar, tidak semua pejabat menggunakan Voorijder, tetapi dengan alasan keselamatan, keamanan dan kelancaran tugas membuat pengawalan yang super ketat harus mereka lakukan, yang tentu saja sesuai dengan aturan yang berlaku.
Dalam bacaan Injil hari ini, di Minggu kedua Advent, dikisahkan bagimana seorang Yohanes, anak Zakharia dan Elizabeth setelah menerima Firman Allah di padang gurun (Luk 3:3) mendatangi daerah Yordan menyerukan kepada orang-orang yang ditemui agar bertobat dan mau dibaptis supaya mendapatkan pengampunan dosa (Luk 3:4). Yohanes menyerukan pertobatan menggenapi nubuat nabi Yesaya, yakni agar mempersiapkan jalan untuk kehadiran Tuhan. Dalam hal ini Yohanes tentu menyadari potensi kemungkinan adanya penolakan dari orang-orang yang ditemuinya. Kata-katanya yang keras dan langsung mengarahkan dan mengajak orang menuju pertobatan, tentu menimbulkan kegerahan dan kegelisahan di hati mereka. Ajakan bertobat, identik dengan menunjuk bahwa ada perbuatan dosa yang mereka telah lakukan, sehingga mereka harus menyesali dan tidak mengulang perbuatan-perbuatan yang menyebabkan terjatuh kembali dalam dosa..
Tentu hal ini membuat mereka tidak nyaman. Tidak mudah menyadarkan seseorang untuk dapat mengakui salah dan dosanya. Atau bisa juga orang tersebut tidak menyadari bahwa dirinya berdosa. Kadang memerlukan waktu yang panjang, dan bahkan harus terlebih dahulu mengalami situasi tertentu entah itu peristiwa suka maupun duka, yang membuat seseorang sadar dan lalu mau bertobat.
Sikap Yohanes yang lugas, tegas dan keras tersebut, tentu membuat banyak orang menolak kehadirannya. Namun Yohanes tetap dengan sikapnya, karena ia percaya bahwa ia sedang menyiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Yohanes menyadari, Ia harus berjalan mendahului Yesus, agar semua orang melihat keselamatan yang dari Tuhan (Luk 3:6). Itulah sikap sejati seorang Voorijder Tuhan, yakni rela melakukan apa saja demi terselenggaranya karya keselamatan Tuhan. Dan upaya Yohanes tidak sia-sia, karena Yohanes percaya bahwa yang dilakukannya sungguh sesuai kehendak Allah, maka banyak orang-orang dari seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea dan penduduk Yerusalem yang datang kepadanya untuk mengaku dosa-dosanya dan dibaptis di sungai Yordan (Mark 1:6).
Yohanes Pembaptis adalah salah satu contoh seorang nabi yang sangat setia, gigih dan berani dalam mewartakan kedatangan Tuhan, sehingga patut kita teladani, agar kitapun pantas menjadi anak-anak Allah dan selalu menjaga hidup kita dalam situasi pertobatan sejati. (THONNY)
Doa: Ya Tuhan, jagalah kami agar dapat mengikuti seruan Yohanes Pembaptis, yakni selalu hidup dengan berbuat baik dan menyiapkan hati kami dalam pertobatan.
Janji: “Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” ---- Mazmur 126:2
Pujian: Perasaan bersalah selalu menghantui ibu Monica setiap melihat anak gadisnya yang bernama Brigita. Ia pernah mencoba menggugurkan kandungannya, namun gagal. Brigita tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri dan penakut. Kegelisahan dan penyesalan ibu Monica akhirnya disembuhkan setelah mengikuti retreat luka batin, dan juga setelah ibu Monica meminta maaf secara langsung kepada Brigita. Kini hubungan mereka menjadi lebih baik dan dapat lepas bebas mengungkapkan kasih sayangnya.
Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ